Di Balik Tirai Kota Gurindam Negeri Pantun

Opini – BeritaInvestigasi.Com. Siapa sih yang tidak tahu dengan slogan “Kota Gurindam Negeri Pantun”, slogan yang sangat familiar di telinga masyarakat Provinsi Kepulauan Riau, ya benar sekali slogan itu di peruntukkan untuk Kota Tanjungpinang Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau.

Tapi kali ini penulis tidak akan menceritakan tentang Pantun ataupun Gurindam, namun kali ini akan menceritakan sedikit kisah gelap di balik sudut kota Tanjungpinang.

Penulis menginjakkan kaki pertama kali di kota ini pada tahun 2014 dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan, namun di sela sela menuntut ilmu banyak memperhatikan kejanggalan di sudut kota ini, terutama tentang dunia malam. Yang awalnya lahir dan besar di salah satu kampung kecil di salah satu Kabupaten di provinsi ini.

jelas sedikit kaget di saat melihat dunia yang seperti ini. yang menurut penulis banyak cabaran. hal yang bisa terjadi hanya untuk sekedar bertahan hidup, dari yang berdagang kecil kecilan hingga menjual badan, nah menjual badan ini lah yang akan diceritakan sebagai berikut.

Banyak yang tidak tahu atau sekedar pura pura tidak tahu dengan masalah perdagangan manusia dalam artian bukan lah ada agen atau tokoh yang bermain untuk menjajakan manusia, namun mereka yang mengaku kesulitan di bidak ekonomi lah yang menjajakan tubuhnya. Beragam cerita menarik yang penulis dapat dari kisah demi kisah langsung dari penjaja badan tersebut.

Si penjaja badan bukan hanya orang yang memang sedang tidak bekerja, namun ada dari kalangan mahasiswa bahkan pelajar SMA sengaja tidak menyebutkan nama karena kesepakatan dari awal memang itu. Biar suatu saat bisa bertanya lebih lanjut soal ini, nah yang menariknya lagi si penjual tubuh ini bisa menyesuaikan tarif dengan si penikmat tubuh mereka, yang penting bisa nutupin uang makan dan kuota internet seminggu sih katanya.

Darimana mereka bisa mendapatkan pelanggan atau penikmat tubuh mereka?, tentu itu menjadi pertanyaan pembaca di tulisan kali ini, nah ternyata mereka juga tidak sembarangan untuk menjual tubuh mereka, tentunya dengan trik dan cara yang sangat aman menurut mereka.

Pertama mereka sengaja mengunduh salah satu aplikasi yang dinilai masyarakat itu memang banyak wanita yang menjual tubuhnya, tidak perlulah dicantumkan aplikasi dimaksud, yang kedua sengaja pergi ke tempat hiburan dengan tujuan siapa tahu di Sana ada yang tertarik dan loby pun terjadi didalam.

Mereka sempat berterimakasih kepada yang punya tempat hiburan, yang telah menyediakan wadah dan tentu kepada pemerintah yang telah mengizinkan wadah tersebut beroperasi.

Ternyata selama ini tempat hiburan sangat berpengaruh untuk pekerjaan wanita yang menjajakan tubuh mereka, penulis sempat terengah di saat mendengarkan cerita dari salah satu penjaja tubuh yang ada di kota ini, ia bercerita ia baru lulus sekolah menengah kedua namun di karenakan himpitan ekonomi dan gaya hidup yang mahal ia harus bekerja seperti itu.

Walau awalnya ia hanya menjadi pemandu lagu Callingan tetapi kalau memang loby loby di dalam sesuai kenapa tidak ia sikat, itu katanya.

Masih banyak tempat tempat yang memang tidak harus di kota yang di kenal sebagai kota ramah dan murah senyum ini, tapi bisa jadi ini semua hadir karena keramahan dan murah senyum tersebut.

 

Penulis : Mohammad Irfan Syahputra Mahasiswa Umrah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia