Kelapa Murah, Hidup Kian Susah: Jeritan Petani di Pulau Maya Minta Pemerintah Turun Tangan

Kayong Utara, Kalbar– Beritainvestigasi.com. Di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang terus membebani masyarakat, para petani kelapa di Kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, justru menghadapi kenyataan pahit. Harga kelapa yang menjadi sumber penghidupan utama mereka anjlok drastis hingga dinilai tidak lagi sebanding dengan biaya produksi maupun kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Kondisi ini memicu keluhan dan keresahan para petani, khususnya di Dusun Limau Manis, Desa Satai Lestari. Mereka berharap pemerintah tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga komoditas kelapa yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir.

Juru bicara warga Dusun Limau Manis mengungkapkan bahwa harga kelapa saat ini berada pada titik yang sangat memprihatinkan. Menurutnya, hasil kerja keras petani selama berbulan-bulan tidak lagi mampu memberikan kesejahteraan yang layak bagi keluarga mereka.

“Harga kelapa saat ini sangat murah, Pak. Tidak berimbang dengan harga barang kebutuhan lain yang terus naik. Kami sebagai petani berharap ada kebijakan dan perhatian pemerintah agar kami petani kelapa ini bisa ikut menikmati hasil kebun kami dengan lebih baik. Kami ingin bisa menyekolahkan anak-anak, memenuhi kebutuhan keluarga, dan hidup layak seperti masyarakat lainnya,” ujarnya saat diwawancarai.

Berdasarkan keterangan warga, harga kelapa bulat di tingkat petani saat ini hanya berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram. Sementara harga kopra berada di kisaran Rp5.000 per kilogram. Angka tersebut dinilai sangat rendah jika dibandingkan dengan tingginya harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, transportasi, hingga biaya perawatan kebun yang terus meningkat.

Para petani mengaku semakin terjepit karena pendapatan dari hasil kebun tidak lagi mampu menutupi kebutuhan keluarga. Bahkan sebagian petani mulai khawatir tidak mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka jika kondisi ini terus berlangsung.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat segera merumuskan kebijakan yang berpihak kepada petani kelapa, baik melalui pengendalian harga, pembukaan akses pasar yang lebih luas, bantuan sarana produksi, maupun program hilirisasi yang mampu meningkatkan nilai jual komoditas kelapa.

Bagi warga Pulau Maya, kelapa bukan sekadar tanaman perkebunan. Kelapa adalah sumber kehidupan, harapan masa depan anak-anak mereka, dan penopang ekonomi keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun. Namun ketika harga terus merosot, harapan itu perlahan ikut tergerus.

Kini, para petani hanya bisa berharap suara mereka didengar. Di balik hamparan kebun kelapa yang menghijau, tersimpan kegelisahan ribuan keluarga yang menanti keberpihakan nyata agar hasil keringat mereka kembali memiliki nilai dan masa depan.(Vr)