Krisantus Sentil Perusahaan di Gawai Dayak Sambas: Masyarakat Lokal Harus Diperhatikan

Sambas, Kalbar – Beritainvestigasi.com. Penutupan Gawai Adat Dayak ke-19 di Kabupaten Sambas berlangsung penuh pesan tegas dan reflektif. Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, dalam pidato sambutannya menyoroti pentingnya martabat, pelestarian budaya, hingga kepedulian perusahaan terhadap masyarakat lokal.

Di hadapan Bupati Sambas, tokoh adat, serta ribuan masyarakat yang hadir pada malam penutupan, Krisantus menegaskan agar masyarakat Dayak tidak lagi bergantung pada proposal dan bantuan dari perusahaan maupun pengusaha.

“Dayak ini jangan menjadi peminta-minta. Antar proposal ke sana sini, harus tebal muka kita, malu. Saya ingin Dayak bermartabat, punya harga diri,” tegasnya disambut tepuk tangan hadirin,Minggu(24/05/2026).

Ia bahkan menyindir budaya donasi seremonial yang dinilainya tidak memberikan dampak besar terhadap kemajuan masyarakat adat.

“Kalau ada yang nyumbang cuma satu juta misalnya, lempar saja ke mukanya, tidak perlu duit itu,” ujarnya lantang.

Dalam pidatonya, Krisantus juga menekankan pentingnya persatuan lintas suku dan agama di Kabupaten Sambas. Menurutnya, semua manusia diciptakan Tuhan yang sama meski lahir dengan suku, budaya, dan agama berbeda.

“Tidak ada Tuhan Dayak, tidak ada Tuhan Melayu, tidak ada Tuhan Jawa, tidak ada Tuhan Bugis, tidak ada Tuhan Tionghoa. Tuhan hanya satu,” katanya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menerima keberagaman sebagai kodrat Tuhan yang harus disyukuri, bukan dijadikan alasan perpecahan.

Selain itu, Wagub Kalbar juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya Dayak di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi. Ia mengingatkan bahwa suku yang tidak menjaga adat dan budayanya akan perlahan hilang ditelan zaman.

Menurutnya, Gawai Dayak tidak boleh hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi harus menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.

Krisantus mendorong Dewan Adat Dayak Sambas agar mulai menghadirkan miniatur alat-alat tradisional peninggalan nenek moyang seperti penggilingan padi, alat pertanian, hingga perlengkapan pengelolaan hutan agar generasi milenial dan Gen Z memahami perjuangan leluhur Dayak di masa lampau.

“Kalau tidak ditampilkan kembali, anak cucu kita tidak akan tahu bagaimana kerasnya perjuangan nenek moyang bertahan hidup dari alam,” ujarnya.

Tak hanya bicara budaya, Krisantus juga menyentil perusahaan-perusahaan di Kalimantan Barat agar lebih peduli terhadap masyarakat sekitar, khususnya dalam mendukung kegiatan adat dan membuka peluang kerja yang layak bagi masyarakat lokal.

“Jangan masyarakat lokal cuma jadi tukang panen sawit dan tukang cangkul. Mereka sudah sekolah, harus disesuaikan dengan jabatan di perusahaan,” tegasnya.

Ia memastikan pemerintah provinsi siap bergotong royong membantu pembangunan fasilitas di rumah betang Kabupaten Sambas, termasuk pemasangan paving block yang sebelumnya disampaikan Bupati Sambas.

Pidato Krisantus Kurniawan malam itu menjadi sorotan karena dinilai berani, lugas, dan menyentuh isu harga diri masyarakat adat, pelestarian budaya, hingga keadilan sosial bagi masyarakat lokal di Kalimantan Barat.(Vr)