
Kegiatan budaya yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juni 2026 atau bertepatan dengan 13 Muharram 1448 Hijriah tersebut diharapkan menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat Melayu dan Bugis sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
Sebelumnya, panitia pelaksana telah dibentuk melalui musyawarah bersama. Dalam susunan kepanitiaan, Rion Sardi dipercaya sebagai Ketua Panitia, sedangkan Heri Iskandar ditunjuk sebagai Sekretaris Panitia untuk mengoordinasikan seluruh rangkaian persiapan kegiatan.
Rapat dihadiri berbagai organisasi dan komunitas yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya, sejarah, dan pusaka tradisional, di antaranya PLK Kabupaten Ketapang, Barisan Pemuda Melayu, Daulat Iranata, PLK-NMT, Sanggar Putra Kayong, LPM, Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB), POM, HPMB, tokoh masyarakat, serta Ketua MABM Kecamatan Sungai Laur.
Ketua Panitia, Rion Sardi, mengatakan Pencucian Pusake Tanah Kayong lahir dari semangat kebersamaan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya dan pusaka daerah.
“Pencucian Pusake Tanah Kayong merupakan inisiatif bersama. Kegiatan ini bukan hanya tentang menjaga dan merawat pusaka, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan antar masyarakat dan komunitas yang memiliki perhatian terhadap pelestarian sejarah daerah,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi dalam persiapan kegiatan menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Ketapang.
Sementara itu, Sekretaris Panitia, Heri Iskandar, menjelaskan rapat difokuskan pada pemantapan konsep kegiatan, pembagian tugas, serta koordinasi lintas organisasi agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan optimal.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Lebih dari itu, Pencucian Pusake Tanah Kayong harus mampu menyatukan semangat kebersamaan sekaligus melahirkan langkah konkret dalam menjaga, merawat, dan memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda,” katanya.
Ketua Daulat Iranata, Ira Syahroni, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, budaya merupakan jembatan yang mampu menyatukan berbagai kelompok masyarakat tanpa memandang latar belakang organisasi maupun komunitas.
“Kegiatan seperti ini penting untuk terus dijaga karena mampu memperkuat rasa persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap warisan budaya yang menjadi identitas kita bersama. Budaya adalah perekat yang menyatukan masyarakat,” tegasnya.
Senada dengan itu, tokoh Melayu-Bugis Ketapang, Pitriadi S. Hut, M.Si, menilai hubungan harmonis antara masyarakat Melayu dan Bugis di Ketapang telah terjalin sejak lama dan menjadi bagian penting dari sejarah daerah.
“Kebersamaan Melayu dan Bugis bukan sesuatu yang baru. Hubungan itu telah terjalin sejak zaman para leluhur dan terus terjaga hingga sekarang. Karena itu, kami mendukung penuh kegiatan ini sebagai simbol persatuan, kekompakan, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan kepada kita,” ujar salah satu pendiri PLK-NMT tersebut.
Dalam rapat tersebut, peserta juga membahas sejumlah agenda teknis pelaksanaan kegiatan, mulai dari susunan acara, pelibatan komunitas budaya, strategi publikasi, hingga upaya mendorong partisipasi generasi muda agar lebih mengenal sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang terkandung dalam pusaka tradisional.
Panitia juga membahas lokasi pelaksanaan kegiatan yang direncanakan berlangsung di Keraton Matan Tanjungpura Mulia Kerta. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap komunikasi dan koordinasi dengan pihak keraton serta para pemangku adat, sehingga kepastian lokasi akan diumumkan setelah tercapai kesepakatan bersama.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap Pencucian Pusake Tanah Kayong 2026 tidak hanya menjadi agenda budaya dalam menyambut Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi ruang pemersatu masyarakat, memperkuat ukhuwah, serta menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.(Vr)