Peratin Subarkat dan Masyarakat Sagat kecewa yang di Duga PLN sudah Merugikan Warga

Lampung, Lampung Barat1355 Dilihat

Lambung Barat, Lampung– Beritainvestigasi.com Warga Kecamatan KebunTebu, Kabupaten Lampung Barat, kembali mengeluhkan kondisi listrik yang tak kunjung membaik. Persoalan daya lemah dan jaringan listrik yang belum tertata rapi menjadi masalah klasik yang terus muncul setiap tahun dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang).

Camat Kebuntebu, Ernawati, S.E., pun mendesak PT PLN Persero Cabang Lampung Barat untuk segera merealisasikan perbaikan pada tahun 2025.

Menurut Ernawati, usulan perbaikan jaringan listrik selalu menjadi pembahasan utama dalam setiap Musrenbang kecamatan. Namun, hingga kini, masalah tersebut belum mendapatkan solusi konkret.

“Dari laporan Masyarakat pada hari Kamis siang tgl 6 feb.2025 adanya pemadaman Listrik,sampai hari Jumat pagi kami kira masih adanya pemadaman ternyata di tempat lain listrik hidup setelah kami selusuri ada kabel yang teputus dan keliatan bekas mutung di posisi kabel yang di sagkutkan di atas pohon.

Dariitu kami memaggil Ketua LHP ( Pak Komar ) dan minta tolong di sambugkan padahal beliau bukan ahlinya di bidang listrik,dan kejadian ini bukan sekali dua kali bahkan sering. Persoalan Listrik ini sudah sejak 2006 masih gini gini aja sedagkan Proposal sudah berulag ulag kali di layagkan cuma belum ada taggapan.

Harapan kami, agar masalah listrik tidak lagi menjadi usulan yang berulang setiap tahun. Kami meminta PLN untuk segera menangani keluhan warga, terutama di Pekon Muarajaya I dan Muarabaru,” ujarnya.

Peratin Muarajaya I, Subarkat Ibrahim, turut mengungkapkan kekesalannya atas kondisi listrik di wilayahnya. Ia menyebutkan bahwa masalah byarpet sering terjadi, terutama di Pemangku Durenan dan Campang, yang mengalami pemadaman dari sore hingga malam hari.

Yang lebih memprihatinkan, kata Subarkat, sudah dua tahun tiang listrik telah ditempatkan di wilayahnya, namun hingga kini belum dipasang kabel. Akibatnya, warga masih menggunakan batang bambu atau menggantung kabel di atas pohon untuk menyalurkan listrik ke rumah mereka.

“Kami sudah menanyakan ke petugas PLN, kenapa tiang yang sudah lama dipasang tidak digunakan sebagaimana mestinya? Namun mereka menjawab bahwa tiang tersebut bukan milik PLN. Ini membuat warga semakin bingung,” keluhnya.

Selain mengalami pemadaman yang meresahkan, jaringan listrik yang tidak stabil juga berdampak pada kerusakan peralatan elektronik warga. Untuk mengatasi masalah ini, Subarkat meminta PLN menambah trafo atau gardu guna menstabilkan tegangan listrik di wilayahnya.

“Dengan jaringan yang tidak stabil, warga bukan hanya mengalami gangguan penerangan, tetapi juga banyak alat elektronik mereka yang rusak. Kami sangat berharap ada langkah konkret dari PLN,” tambahnya.

Keluhan ini menjadi sorotan penting, mengingat listrik adalah kebutuhan dasar masyarakat. Warga Kebun Tebu kini menantikan respons nyata dari PLN agar masalah listrik tidak lagi menjadi cerita berulang dalam setiap Musrenbang ( Salman ).