
Keberhasilan Amir ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan masyarakat pedalaman dalam menyuarakan pentingnya pendidikan dan pembinaan keagamaan berbasis kearifan lokal.
Amiruddin merupakan Penyuluh Agama Islam non-PNS yang mengabdikan diri di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, sebuah wilayah transmigrasi yang terletak jauh di pedalaman Kabupaten Kayong Utara. Dengan segala keterbatasan akses dan fasilitas, ia tidak hanya hadir sebagai penyuluh, tapi juga sebagai penggerak perubahan sosial yang menebarkan cahaya Islam melalui pendekatan humanis dan inovatif.
Menembus 52 Finalis Terbaik Se-Kalimantan Barat
Dalam seleksi yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Amiruddin bersaing dengan 52 penyuluh agama terbaik dari seluruh kabupaten dan kota. Penilaiannya meliputi berbagai aspek, mulai dari karya tulis ilmiah (KTI), video dokumenter, hingga portofolio rekam jejak pengabdian. Presentasinya yang memukau, ditambah dengan pendekatan program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat akar rumput, berhasil menggugah hati para dewan juri.
Karya tulisnya yang berjudul “Peran Penyuluh Agama dalam Mensyiarkan Islam melalui Gerakan MAS ELING di Pedalaman Kalimantan Barat” menjadi sorotan utama. Melalui riset lapangan dan pengalaman langsung, Amiruddin menguraikan secara mendalam bagaimana tantangan dakwah di pedalaman bukan menjadi halangan, tetapi justru menjadi peluang untuk menciptakan pendekatan baru yang lebih membumi.
MAS ELING: Gerakan Dakwah yang Tumbuh dari Akar Masyarakat
Gerakan MAS ELING (Maghrib Isya’ Keliling) merupakan metode penyuluhan inovatif yang dirancang Amiruddin untuk merespons tantangan nyata masyarakat pedalaman. Program ini bukan sekadar ceramah rutin, tetapi menciptakan ruang dialog dan kebersamaan di sela-sela waktu shalat Maghrib dan Isya’. Ia menyambangi rumah-rumah warga, surau-surau kecil, bahkan kadang menembus wilayah terpencil dengan berjalan kaki atau menaiki motor melintasi jalanan berlumpur demi menyapa umat.
MAS ELING menjadi medium dakwah yang hidup – mengedepankan nilai-ndakwahislam secara personal, relevan, dan menyentuh aspek keseharian warga. Dari mendidik anak-anak mengaji, menyelesaikan konflik keluarga, hingga menjadi tempat curhat bagi para petani dan ibu rumah tangga – semua dilakukan dengan pendekatan kasih dan kesabaran.
Dedikasi yang Menginspirasi
“Saya tidak pernah membayangkan bisa sampai sejauh ini. Yang saya tahu, saya hanya ingin hadir dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitar saya,” ujar Amiruddin dengan mata berkaca-kaca usai menerima penghargaan di Pontianak, pada 29 Mei 2025. Kemenangan ini, katanya, bukan semata pencapaian pribadi, melainkan amanah besar untuk terus melayani dan membina umat.
Amiruddin juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat dan rekan-rekan penyuluh yang selama ini menjadi sahabat seperjuangannya di medan dakwah. Baginya, penyuluhan agama adalah panggilan jiwa, bukan sekadar tugas formal.
Dukungan dan Harapan Menuju Ajang Nasional
Prestasi ini mendapat apresiasi langsung dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kayong Utara, H. Tengku Indra Kusuma, S.Pd.I, M.SI, yang menilai keberhasilan Amiruddin sebagai bukti nyata bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis dalam pembangunan karakter dan spiritual masyarakat, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
“Semoga kemenangan ini menjadi inspirasi bagi penyuluh agama lainnya untuk terus berinovasi dan menjadikan dakwah sebagai jalan pengabdian yang penuh cinta,” tuturnya.
Dengan raihan juara di tingkat provinsi ini, Amiruddin kini bersiap mewakili Kalimantan Barat di ajang Penyuluh Agama Islam Award Tingkat Nasional 2025. Perjalanan dari pelosok Rantau Panjang hingga ke pentas nasional menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi siapapun untuk berprestasi, selama ada ketulusan, kerja keras, dan semangat untuk memberi manfaat.
Kini, seluruh masyarakat Kayong Utara – dan Kalimantan Barat secara luas – menaruh harapan besar pada sosok Amiruddin. Ia bukan hanya duta dakwah, tetapi juga simbol harapan dan semangat perubahan dari pedalaman Kalimantan untuk Indonesia yang lebih bermartabat secara spiritual dan sosial.
Penulis: MH
Editor: Verry