Prasasti Sumpah Setia Melayu Bugis dan Sejarah Kepulauan Riau

Kepri- Beritainvestigasi.com Kabupaten Bintan awalnya dikenal sebagai Kabupaten Kepulauan Riau, yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil di Laut Cina Selatan. Pada periode 1722-1911, terdapat dua kerajaan Melayu yang memerintah di wilayah ini, yakni Kerajaan Riau Lingga yang berpusat di Daik dan Kerajaan Melayu Riau di Pulau Bintan.

Kekuasaan kedua kerajaan ini tidak hanya terbatas pada Kepulauan Riau, tetapi juga mencakup wilayah Johor dan Malaka (Malaysia), Singapura, serta sebagian kecil wilayah Indragiri Hilir. Pusat pemerintahan mereka berada di Pulau Penyengat yang terkenal di Nusantara dan Semenanjung Malaka.

Basyaruddin Idris alias Tok Om, staf khusus gubernur dan pelopor DMDI KEPRI, menyatakan bahwa pulau kecil ini memiliki sejarah yang kaya, terutama mengenai hubungan antara Melayu dan Bugis. Melayu Bugis atau Bugis Melayu ini telah mencatat sejarah penting di Kepulauan Riau, terutama di Pulau Bertuah, Pulau Penyengat.

*Sumpah Setia Melayu dan Bugis*

Sejarah mencatat adanya sumpah setia antara Melayu dan Bugis yang terdokumentasi dalam berbagai manuskrip. Salah satu narasi sumpah setia tersebut menyatakan:

“Jikalau tuan kepada Bugis, tuanlah kepada Melayu, dan jikalau tuan kepada Melayu, tuanlah kepada Bugis.”

Manuskrip ini mencatat sumpah setia antara kedua belah pihak, mulai dari zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1691) hingga masa Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ibni Sultan Abdulrahmansyah dan Yantuan Muda Raja Haji Abdullah ibni Raja Jakfar. Dokumen-dokumen ini menunjukkan hubungan erat dan aliansi antara Melayu dan Bugis yang telah memainkan peran penting dalam sejarah dan perkembangan wilayah Kepulauan Riau.
(A.Ridwan)