
Bintan – BeritaInvestigasi.Com. Tiga orang Nelayan asal Kabupaten Bintan, Agus Suprianto (26), Sandi (18) dan Andi (18) diduga ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia (PDRM), sejak, Kamis (8/7/2021) lalu.
Pemilik Bot Kapal yang digunakan oleh Nelayan tersebut, Safaruddin menceritakan bahwa ketiganya pergi sekitar pukul 02.00 wib. Dengan Bot Ukuran 34 Kaki mesin 35.sekitar, ukuran 3 GT. membawa alat tangkap berupa Rawai, dan pancing menuju Len 104 dengan No bawah Gps 35.36, di Perairan Pulau Awor.
“Biasanya mereka melaut sampai 2 dengan 3 Hari lalu pulang. Namun sekitar Pukul 20.00 saya dapat kabar dari Andi bahwa mereka ditahan Polisi Malaysia,” ungkap Safaruddin, Minggu(11/7) malam.
Menurut Safaruddin setelah mendengar tersebut hingga sekarang pihak keluarga maupun pemilik bot tidak bisa lagi mendapat kabar dari warga nelayan yang melaut.
“Saya berharap ini persoalan bisa di selesaikan dalam waktu cepat, kasihan kelurga mereka yang di tinggalkan,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau maupun Pemerintah Republik Indonesia mau membantu atas masalah tersebut.
“Saya berharap kepada pemerintah bisa memberikan bekal komunikasi yang lengkat kepada para nelayan yang menangkap ikan di perbatasan sehingga jika ada kerusakan dan lain hal mereka bisa segera berkomunikasi dan kami mintak batuan kepada rekan – rekan nelayan atau khusus kontak no bagian pengawas perikanan,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua KNTI Bintan Buyung Adly meminta Pemerintah harus lebih memperhatikan nelayan lokal dalam melakukan penangkapan di Wilayah Perbatasan.
“Kami KNTI meminta pemerintah harus perhatiakan nelayan yang melakukan penagkapan ikan yang berada di perbatasan,.
Lalu memberikan nelayan peta,atau kordinat_ kordinat perbatasan sehingga nelayan paham akan garis sempadan Negara,” ungkapnya.
Selain itu, Buyung meminta langkah konkrit dari Pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah tapal batas wilayah. Sehingga nelayan bisa aman dalam mencari nafkah di Perairan Perbatasan.
“Kami KNTI berharap ada langkah_pangkah kongkrit pemerintah biar semua ini tidak terjadi kembali. Sebab ini bukan yang pertama kali. Lalu berikan mereka Alat komunikasi yang baik untuk komunikasi ketika perahu mengalami kerusakan dan berpotensi masuk ke negara tetangga karena terbawa arus atau gelombang,” tutupnya.
( Budi )