oleh

Tuntut Hak Plasma Anggota Koperasi Ritual Adat dan Portal Blok Kebun PT. CUS

Kayong Utara, Kalbar -Beritainvestigasi.com. Anggota Koperasi Bongat Sejahtera Sejati (KBSS) laksanakan Ritual adat, dan lakukan portal di kebun PT Cipta Usaha Sejati (CUS) yang berada di Desa Kamora, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang pada Kamis (09/09/2021).

Informasi yang dihimpun oleh media ini, bahwa portal dilakukan karena pihak Perusahaan belum menyerahkan kebun plasma yang menjadi hak masyarakat setempat.

Ketua Koperasi Bongat Sejahtera Sejati, Julianus Tommy, saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp mengatakan, portal adat dilaksanakan guna menuntut beberapa hak warga yang hingga kini belum dipenuhi oleh pihak perusahaan.

” Beberapa hal yang menjadi tuntutan warga yakni : Meminta Perusahaan menyerahkan kebun kemitraaan/plasma yang menjadi hak masyarakat anggota koperasi Bongat Sejahtera Sejati (KBSS),” kata Julianus Tommy, Sabtu(11/09/2021).

“Serta menetapkan lahan kebun kemitraan 20 persen dari 1.200 hektar. Kemudian segera laksanakan pembahasan perjanjian kerja sama yang harus ditandatangani paling lambat sejak portal adat dilakukan,” lanjutnya.

Menurut Tommy, aksi portal oleh pihaknya bukan tanpa alasan. Semuanya telah melalui pertimbangan dan alasan.

Pertama ; Hasil pertemuan di Dinas Perkebunan Ketapang 29 April 2015 lalu.

Kedua ; Surat keputusan Gubernur Kalbar nomor 481/Disbun/2020 tanggal 8 Mei. Surat itu tentang penetapan peserta kebun masyarakat sekitar koperasi perkebunan Bongat Sejahtera Sejati yang bermitra dengan PT CUS. Peserta ditetapkan berjumlah 169 orang.

Ketiga ; Hasil pertemuan di Disbun Provinsi Kalbar pada 3 September 2021 tentang penyelesaian masalah pembangunan kebun masyarakat sekitar koperasi Bongat Sejahtera Sejati.

Keempat ; Perwakilan PT CUS yang hadir dalam rapat mediasi penyelesaian masalah plasma koperasi menolak menandatangani berita acara hasil rapat di Disbun Provinsi tersebut.

Ia menyebut, adapun dasar pelaksanaan portal terakhir adalah hasil rapat anggota koperasi Bongat Sejahtera Sejati.

“Yang kita gelar 6 September 2021 kemarin,” tambah Tommy.

Tommy menegaskan, jika tuntutan warga diabaikan, maka terhadap lahan 240 Ha dalam HGU PT CUS menjadi milik koperasi.

” Mabali 3 divisi 5 blok E30-E34 dan F28-F31 tahun tanam 2013 seluas 158 Ha, blok E35-E36 tahun tanam 2014 seluas 12 Ha, blok G31 tahun tanam 2015 seluas 8 Ha, blok E29, F32-F36 seluas 64 Ha tahun tanam 2016, menjadi milik koperasi,” tegasnya.

“ Apabila ada yang buka portal, siaapapun dia yang membuka portal adat dayak, khususnya adat desa Kemora, maka mendapat sanksi adat 80 real. Nama adatnya berdagang balok,” ujar Tommy.

“Semua point tuntutan sudah kita tuangkan dalam berita acara. Namun hanya pihak perusahaan saja yang masih tidak menandatangani berita acara itu,” pungkasnya.

Martinus Dadho, Ketua Dewan Adat Dayat (DAD) Kecamatan Simpang Dua, membenarkan adanya ritual adat dan portal.

” Benar ada ritual dari masyarakat adat Kamora dan dipasang portal jalan, karena pihak PT CUS belum menyerahkan plasma milik masyarakat setempat,” kata Dadho melalui pesan WhatsApp.

Sementara itu Kepala Desa Kamora, saat dimintai keterangan melalui pesan WA menjelaskan. Kewajiban perusahaan berdasarkan peraturan dan perundangan-undangan di inti dan plasma di bangun secara bersamaan, berdasarkan pola minimal 80/20.

” Namun sampai saat ini kebun masyarakat belum di serahkan kepada masyarakat,” jelas Kades.

Lanjut Kades, bahwa berdasarkan hasil mediasi di Disbun Propinsi Kalbar bahwa perusahaan wajib menyerahkan plasma kepada masyarakat.

” Namun perusahaan tidak mau menandatangani berita acara tersebut, sehingga terjadilah pemortalan secara adat oleh pengurus, pengawas, dan anggota koperasi BSS,” lanjutnya.

Kemudian Kades berharap agar pihak perusahaan dapat merealisasikan tuntutan masyarakat/ petani plasma.

” Membagikan plasma 20 persen dari 1200 Ha luas tanam, yang semestinya harus di serahkan pada tahun 2017,” tutupnya.

Kapolsek Simpang Dua, IPDA Ali Mahmudi dihubungi via WhatsApp hanya di baca tidak memberikan jawaban.

Di tempat lain, pihak PT CUS melalui Humas saat dikonfirmasi mengatakan perihal tersebut sedang dalam proses mediasi.

” Semalam telah dilakukan proses mediasi yang dihadiri Ketua Dewan Pertimbangan DAD Kalbar, Petinggi Adat Simpang Dua, Ketua DAD Simpang Dua dan Kapolsek,” terang Hidayat Humas PT CUS.

Hidayat mengatakan, pada proses mediasi tersebut hingga malam pihaknya dengan pengurus koperasi belum bisa menghadiri pertemuan, yang kemudian direncanakan akan dilanjutkan pada Senin di Kecamatan.

Hidayat mengatakan, perusahaan tetap berkomitmen membangun kemitraan dengan koperasi Bongat Sejahtera Sejati.

” Niat kami membangunkan, proses kami membahas kemungkinan terjadi perbedaan pendapat, hal itu wajar, namun kami mengarah pada prinsip-prinsip kemitraan yang saling menguntungkan semua pihak,” kata Hidayat.

Hidayat menyebut ada rencana pembangunan di areal seluas 353 hektar.

“338 hektar areal tanam, 15 hektar infrastuktur. Sementara teman teman itu ada 240 hektar yang diblokir oleh mereka,” ujar Hidayat.

Dipaparkannya, bahwa di Kamora ada 169 KK, jika dibagikan 2 hektar 240 ha yang ada tidak cukup, oleh karena itu pihaknya berencana membangun seluas 338 ha.

“Kalau 338 hektar yang akan dibagikan itu untuk jangka waktu panjang lebih menguntungkan, namun memang memakan waktu panjang, setidaknya 48 bulan(5 tahun). Dan kita juga memfasilitasi pendirian koperasi sampai penetapan SK peserta plasma, itu sebagai bentuk komitmen kami,” paparnya.

Hidayat juga berharap dalam hal ini ada penyelesaian yang baik.

” Kami berharap dalam hal ini bisa diselesaikan dengan baik,” pungkasnya.  (SDI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed