
Opini-BeritaInvestigasi.Com. Hari raya idul adha setiap tahun nya dilaksanakan oleh umat muslim dikenal dengan sebutan hari raya haji. Dimana kaum muslimin didunia sedang menunaikan ibadah haji yang utama yaitu wukuf di Arafah.
Pada saat wukuf di arafah umat muslim memakai pakaian serba putih. Hal itu disebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup yang mempunyai tatanan nilai persamaan dalam segi kehidupan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiayah.
Disamping hari raya idul Adha dinamakan hari raya haji, hari idul Adha juga dinamakan hari raya qurban. Karena pada hari itu Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada-nya. Bagi umat muslim yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, maka diberi kesempatan untuk berkurban, dengan menyembelih hewan kurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan umat muslim kepada Allah SWT.
Jika melihat sisi historis / sejarah dari perayaan idul adha, maka umat muslim dapat mencontoh dari sritauladan Nabi Ibrahim As. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT menempatkan istrinya Hajar dan putranya yang saat itu masih menyusui mereka ditempatkan di suatu lembah yang tandus, gersang dan tidak tumbuh sebatang pohon pun. Nabi Ibrahim As tidak tahu apa sebenarnya maksud wahyu dari Allah SWT, yang menyuruh istri dan putra nya ditempatkan di suatu tempat paling asing disebalah Utara kurang lebih 1600 Km dari negara nya Palestina. Namun nabi Ibrahim As menerima printah itu dengan iklas dan penuh tawakkal
Karena pentingnya peristiwa tersebut. Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: Ya Tuhan kami sesunggunnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah gati sebagia manusia cenderung kepada mereka dan berizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37)
Perintah berqurban sendiri berkaitan dengan kisah ketulusan dan totalitas dalam berqurban di dalam mengarungi kehidupan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.
Kala itu, Ibrahim telah berusia senja dan Ismail mencapai usia remaja. Dikisahkan, Nabi Ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail. Mimpi tersebut merupakan bagian dari wahyu Allah.
Ketika terbangun, Ibrahim merasakan kesedihan yang mendalam. Sebab, setelah sekian lama terpisah dengan sang buah hati, dia harus mengorbankan anaknya.
Allah hendak menguji sejauh mana keta’atan Nabi Ibrahim. Sebagai seorang hamba yang beriman dan taat kepada Allah, dia harus melaksanakan perintah Allah. Ibrahim kemudian mendatangi Nabi Ismail dan meminta pendapatnya.
Rupanya, jawaban dari Nabi Ismail sungguh luar biasa. Nabi Ismail justru meminta ayahnya untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Ismail berkata demikian, “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku Insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah Allah.” (QS. Ash-Shaffat:102)
Nabi Ibrahim lantas menangis haru mendengar penuturan anaknya. Ibrahim pun dengan ikhlas dan sungguh-sungguh melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Namun ketika hendak dilaksanakan, Allah membolehkannya menggantinya dengan binatang domba.
Dengan demikian, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah berhasil melewati ujian keimanan tersebut. Domba yang menjadi pengganti Nabi Ismail untuk disembelih itu menjadi asal mula melakukan ibadah qurban pada Idul Adha. Berkaca pada pengalaman Nabi Ibrahim As, umat muslim mesti mengambil sritauladan Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail sehingga makna yang tersimpan dan tersirat dari pengalaman dan pengorbanan Nabi Ibrahim mampu memberikan kita semua umat muslim pemahaman atas perintah Allah SWT untuk kita iklas dan bersungguh-sungguh mendekatkan diri pada Allah SWT. (Red)