Warisan Melayu Kembali Bersemayam di Bintan, Pemasyhuran Raja Muda Melaka Angkat Daya Tarik Wisata Budaya

Bintan163 Dilihat

Bintan, Kepri — Beritainvestigasi.com Peristiwa bersejarah yang sarat nilai adat dan warisan Melayu berlangsung khidmat di Balairong Istana Kota Kara, Selasa (22/4/2026). Majlis Pemasyhuran Trah Zuriat Raja-Raja Melayu Melaka ini menjadi momentum penting dalam menghidupkan kembali kebudayaan Melayu yang telah berakar kuat di Kepulauan Riau.(24/4/2026)

Dalam istiadat tersebut, dimasyhurkan Tengku Zulkifli bin Tengku Ibrahim sebagai Yang Amat Mulia Raja Muda Melaka. Prosesi ini turut disertai penyerahan Piagam Salasilah Sah Trah Zuriat Raja-Raja Melayu Melaka sebagai bentuk peneguhan identitas serta kesinambungan sejarah Melayu.

Prosesi adat dibacakan secara resmi oleh Kesultanan Melayu Bintan Darul Masyhur dan disaksikan oleh Majlis Syura Tun Telanai, para pembesar istana, serta Dato’-Dato’ Penghulu. Suasana balairong tampak sakral dengan balutan busana adat diraja, susunan istiadat klasik, serta lantunan lafaz pemasyhuran yang menggema.

Momentum ini dinilai tidak hanya bermakna secara adat, tetapi juga membuka peluang besar dalam pengembangan wisata budaya di Pulau Bintan. Bintan dinilai semakin memperkokoh posisinya sebagai pusat warisan Melayu klasik sekaligus destinasi wisata berbasis adat dan tradisi.

Kegiatan seperti pemasyhuran, istiadat balairong, hingga ritual adat dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata sejarah yang unik dan autentik, berbeda dari wisata modern pada umumnya.

Selain itu, pemasyhuran ini juga menjadi simbol kesinambungan hubungan sejarah antara Melaka dan Bintan, yang sejak lama memiliki keterkaitan erat dalam jaringan kekuasaan, budaya, dan adat istiadat Melayu.

Dengan pengukuhan gelar Raja Muda Melaka tersebut, Bintan tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga panggung hidup bagi kebangkitan kembali identitas Melayu yang berdaulat.

Kini, Bintan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata pantai dan resort, tetapi juga sebagai gerbang pengalaman peradaban Melayu yang autentik, mulai dari menyaksikan istiadat diraja hingga menelusuri jejak sejarah yang masih hidup di tengah masyarakat.

Bintan memanggil — bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk dirasai.

(A.Ridwan)