
Kayong Utara, Kalbar -Mediainvestigasi.com. Menjelang Pesta Demokrasi di Tanah Air pada tahun 2024, suhu politik mulai terasa dan jadi pembahasan dikalangan Tokoh dan Aktivis.
khususnya di Daerah Kabupaten Kayong Utara (KKU). Persoalan “AIR BERSIH” menjadi isu Central yang kerap disuarakan berbagai kalangan, dan masalah Air Bersih adalah salah satu program yang dijanjikan Bupati dan Wakil Bupati terpilih pada Pilkada Juni 2018 silam sebagai Visi Misi saat pencalonan.
Memasuki tahun ke 3 pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati ( Citra Duani- Effendi Ahmad) persoalan itu belum juga terealisasi secara total sehingga menuai banyak kekecewaan dan kritikan.
Dikutip dari dari Akun Facebook Juminggu HS (Ijul Lkp) dalam sebuah diskusi kecil yang mengetengahkan tema” Pemaparan Persoalan Air Bersih Dari Tokoh Politik Partai Golkar Yang Terbilang Tertua di Kayong Utara” mendapat tanggapan dan komentar beragam dari Warga Net.
Dalam unggahan Akun Ijul Lkp pada Minggu(26/09/2021) menuliskan ada dua poin penting yang menjadi catatan.
” Singkat tepat padat.
1. Jika ingin 2 periode, kedepankan kebutuhan masyarakat, yaitu air bersih.
2, Adakan seminar di istana rakyat, mengundang para tokoh2 masyarakat tertua di kecamatan, bkn tenaga ahli dari luar daerah. Krna yg tau persis debit air saat kemarau, org tertua di kampung Itu sndri, bkn org Jakarta,” ungkap pak Anjang Ibrahim, seperti tulisan yang di unggah dalam Facebook Ijul Lkp.
Dalam unggahan yang menampilkan foto tokoh politik senior KKU itu banyak mendapat tanggapan dan komentar, diantaranya Akun Marhali.
”Liat lh Lok klau mau 2 periode,” tulis Marhali di kolom komentar yang bubuhi emoticon ketawa dalam gaya bahasa kampung.

“Kami selaku masyarakat dah kenyang makan janji bang,” ujar AngelLina Kayong.
Eks tokoh Golkar KKU, Hermansyah Herman ikut menanggapi dengan sindiran halus.
”Air bersih yang benar nye air hujan jak lah……
Insya Allah sampai ke masyarakat,” kata Hermasyah Herman.
Unggahan Ijul Lkp tak luput dari perhatian tokoh pemekaran, Abdul Rani.
“Berkaitan tentang air bersih sudah sejak Kayong Utara menjadi sebuah kabupaten sudah di wacanakan, namun usia KKU sudah 14 tahun lebih blm terselesaikan, klu berbicara sumber air Kayong Utara di kelilingi gunung, hanya tim tehnis nya nampak nya kurang sungguh sungguh utk bekerja membangun pipa asal asalan setiap tahun dianggarkan hanya untuk menanam pipa sementara untuk mengisi pipa tidak di pikirkan. Ini memang betul betul membutuhkan tenaga tehnis yang menguasai benar benar,” ungkap Abdul Rani melalui Akun FB nya Derani Jak.
“Harusnya didampingi tenaga ahli yg benar2 mengerti tentang PDAM…Pipa yang ada di KKU ni perlu di install ulang, pipa yang ada di KKU itu ibaratnya seperti benang kusut…Walau pun di kelilingi gunung belum tentu airnya banyak, apa lagi sudah beralih fungsi dan tidak dipungkiri pertambahan penduduk,dan konsumen pemakai air boros karena tidak ada stop kran, itu juga salah satu faktor air sering gak ada mengalir,” Susanto Menimpali.
Warga net lain nya yang menurutnya pernah melakukan penggalian ikut bersuara.
“Saya pernah kerja di Simpang Hilir…Gali pondasi… Jumpa 2 saluran pipa 3 inc tapi isinya kosong semua… Saya tanya warga setempat… Pernah mengalirkh airnya? Warga jawab tidak pernah… Itu pipa cume ditanam ja, tidak ada manfaatnya…,” kata Akun Dadang.

“Air sulit sampai ke melano?
1. Faktor teknis, secara grafitasi air dari mentubang masih memungkinkan sampai tetapi tidak bertekanan karen syarat kemiringan elevasi udah tudak dapat, ditambah banyaknya faktor loss hilang di pertengahan.
2. Faktor sosial, banyak hilangnye tekanan karena bisa jadi masyarakat ada yang ambil dari pipa transmisi, bukan dari pipa distribusi, sehingga memang harus di tertibkan
3. Faktor manajemen, boster rantau panjang belum dimaksimalkan, harusnya bisa digunakan untuk menambah daya tekan sistem mekanis
4. Faktor SDM dan Keuangan…No comment,” sambung Edi di kolom komentar.
Di lain pihak, Bupati KKU Drs. Citra Duani dimintai tanggapannya melalui pesan WhatsApp hingga berita ini di publis tidak ada jawaban.
Sementara itu Wakil Bupati H. Effendi Ahmad,S.Pdi, M.Sos dikonfirmasi tidak bisa memberikan jawaban.
“Saya tak bisa komen lebih, karena memang dari awal saya tak paham soal air bersih. Saya anggap ini persoalan berat. Masalah ini harus duduk bersama untuk merumuskannya,” kata Effendi Ahmad melalui sambungan WhatsApp Senin (27/09/2021). Penulis: Vr














