Ketika Administrasi Mencederai Makna May Day, PWK Soroti Kinerja Panitia

Ketapang, Kalbar – Beritainvestigasi.com. (29 April 2026). May Day bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah simbol perjuangan, solidaritas, dan penghormatan terhadap setiap elemen yang berkontribusi dalam ruang publik—termasuk insan pers. Ironisnya, semangat itu justru bisa tereduksi oleh persoalan yang tampak sederhana: administrasi yang tidak tertib.

Tidak tercantumnya Persatuan Wartawan Kalimantan Barat (PWK) dalam undangan resmi May Day 2026 di Ketapang bukan hanya soal teknis yang bisa dianggap sepele. Terlebih ketika hal serupa disebut bukan kali pertama terjadi. Di titik ini, publik berhak mempertanyakan: apakah ini sekadar kelalaian berulang, atau cerminan l koolemahnya sistem kerja yang tidak pernah benar-benar dibenahi?

Panitia memang telah menyampaikan permohonan maaf dan melakukan revisi. Namun alih-alih menyelesaikan persoalan, revisi tersebut justru memunculkan ketidakteraturan baru, seperti penomoran daftar yang ganda dan tidak sistematis. Ini bukan lagi sekadar kekeliruan administratif biasa, melainkan indikasi bahwa standar kerja yang digunakan belum memenuhi prinsip dasar ketelitian dan akurasi.

Dalam setiap kegiatan publik, administrasi adalah wajah awal dari profesionalitas. Dari situlah publik menilai keseriusan, kredibilitas, dan kapasitas penyelenggara. Ketika hal mendasar ini saja tidak dikelola dengan baik, wajar jika kepercayaan publik ikut dipertaruhkan.

Lebih jauh, absennya nama sebuah organisasi pers yang aktif seperti PWK dalam dokumen resmi memunculkan kesan kurangnya sensitivitas terhadap peran strategis media. Padahal, pers bukan sekadar pelengkap acara, melainkan mitra penting dalam menyampaikan pesan dan menjaga akuntabilitas ruang publik.

Tentu, tidak bijak untuk langsung menarik kesimpulan tanpa klarifikasi. Namun justru karena itulah, transparansi menjadi keharusan, bukan pilihan. Penjelasan yang terbuka dan bertanggung jawab diperlukan untuk memastikan bahwa persoalan ini tidak terus berkembang menjadi spekulasi yang merugikan semua pihak.

Peristiwa ini semestinya menjadi alarm. Bukan hanya bagi panitia May Day 2026, tetapi juga bagi setiap penyelenggara kegiatan publik: bahwa profesionalitas tidak diukur dari besarnya acara semata, melainkan dari ketertiban proses di baliknya.

Jika hal-hal mendasar seperti administrasi masih diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi penyelenggara, tetapi juga makna dari momentum itu sendiri.

May Day seharusnya menjadi panggung kebersamaan. Namun tanpa pengelolaan yang profesional, ia berisiko berubah menjadi cermin dari persoalan yang justru bertolak belakang dengan nilai yang ingin diperjuangkan.

Red


Catatan : Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dengan menggunakan Hak Jawab sebagaimana diatur dalam UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *