Dolar Sabu dan Teror Gen Z di Sandai: Saat Hukum Tumpul, Anak Bawah Umur Bebas Menjarah!

foto Ilustrasi: Kantor Polsek Sandai Polres Ketapang.

Ketapang, Kalbar — Beritainveatigasi.com  (Rabu 19 Agustus 2026). Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, kini berada dalam pusaran darurat keamanan. Maraknya aksi kriminalitas, mulai dari pencurian, penyalahgunaan narkoba, hingga prostitusi terselubung, kini didominasi oleh anak-anak di bawah umur.

Minimnya tindakan tegas dari aparat penegak hukum (APH) dinilai menjadi karpet merah bagi para “kriminal cilik” ini untuk makin merajalela.
Dari hasil investigasi lapangan dan penelusuran tim media, wajah suram Sandai kian benderang. Warga setempat mengaku hidup dalam bayang-bayang kecemasan akibat maraknya aksi pencurian yang dipicu oleh jeratan narkotika jenis sabu.

“Di Sandai ini sudah sangat parah! Kita tak bisa lengah sedikit pun. Tabung gas hingga barang berharga di rumah raib. Kebanyakan pelakunya anak di bawah umur. Mereka nekat dan hilang akal karena sudah kecanduan sabu,” cetus salah seorang pemilik warung makan dengan nada geram.

Aksi nekat para remaja ini tak lagi sekadar pencurian kelas teri. Seorang korban curanmor menceritakan pengalaman pahitnya saat sepeda motor miliknya dibawa kabur oleh pelaku yang masih di bawah umur. Meski pelaku sempat ditangkap warga dan diserahkan ke markas kepolisian setempat, korban mengaku kecewa berat karena hukum seolah mandul saat berhadapan dengan status “anak di bawah umur”.

“Motor saya dilarikan, pelakunya anak bawah umur. Sudah ditangkap dan dibawa ke Polsek, tapi tidak ada tindakan tegas! Alasan anak di bawah umur selalu jadi tameng, sehingga tak ada efek jera. Malah makin menjadi-jadi karena mereka nekat demi beli narkoba,” ungkap korban dengan nada frustrasi.

Prostitusi Bebas dan Aparat yang ‘Alergi’ Media

Tak berhenti pada pencurian dan narkoba, guncangan Kamtibmas di Sandai juga diperparah oleh praktik prostitusi terselubung. Penginapan dan hotel-hotel lokal diduga kuat sengaja dibiarkan bebas menjadi sarang transaksi lendir tanpa tersentuh razia aparat.

Warga Desa Sandai Kiri menyayangkan sikap dingin penegak hukum dan instansi terkait. Usia-usia produktif setingkat SMP dan SMA yang seharusnya menganyam pendidikan, kini justru terperosok dalam lingkaran hitam kriminalitas.

“Harusnya ada pembinaan masif atau penegakan hukum yang rigid! Mau jadi apa generasi kita? Meski anak di bawah umur, kalau sudah meresahkan dan merusak, harus ditindak tegas agar ada efek jera!” tegas seorang warga setempat.

Sayangnya, saat tim investigasi media mendatangi Kantor Polsek Sandai untuk meminta konfirmasi dan kejelasan penanganan kasus, Kapolsek Sandai IPTU Rio Fachrihadi tidak dapat ditemui. Sikap tertutup dan terkesan ‘alergi’ terhadap wartawan ini kian memperkuat dugaan publik: ada pembiaran yang sengaja dipelihara di Sandai.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan ekstraordinari, Sandai bukan hanya kehilangan ketertiban, tetapi sedang merencanakan kehancuran masa depan generasinya sendiri.(Verry) 


Catatan : Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dengan menggunakan Hak Jawab sebagaimana diatur dalam UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *