oleh

Dua Tahun Lumbung Pertanian Tergenang Air, Warga : Kami Seperti Dianak Tirikan

Mampawah, Kalbar – Beritainvestigasi.com. Dua tahun terakhir ini warga Dusun Raden Wijaya, Desa Jungkat, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mampawah, mengeluh gagal tanam akibat genangan air sehingga butuh perhatian dari Pemerintah.

Menurut Wak Damak, salah satu Ketua RT, sudah dua tahun belakangan ini warga tidak bisa menanam padi, yang mana menanam padi itu merupakan pekerjaan pokok masyarakat yang tinggal di Dusun Raden Wijaya.

” Kami masyarakat di sini sudah 2 (dua) tahun ini tidak bisa menanam karena kebanjiran. Ketinggian air mencapai 60 cm hingga 80 cm,” tutur Wak Damak saat ditemui di lokasi pada Senin (13/09/2021).

Menurut Wak Damak, bahwa bertani merupakan satu satunya pekerjaan warga setempat, dan merupakan sumber ekonomi masyarakat. Namun karena genangan air, perekonomian warga menjadi lumpuh.

Dia mengatakan, dulu daerahnya merupakan salah satu lumbung padi yang ada di Kabupaten Mempawah.

” Seperti saat ini, lihat saja (sambil menjuk lahan pertanian) genangan air yang cukup dalam itu, kami tidak bisa untuk menyemai bibit, inilah yang menjadi kendala,”ujarnya.

Genangan air yang tertampung diakibatkan tersumbatnya saluran pembuangan di Muara, sehingga dibutuhkan untuk normalisasi.

” Butuh normalisasi di muara, diantaranya Muara Sungai Air Hitam, Muara Parit Lato sampai Parit Haji Husin dan parit Haji Usman. Juga ada hambatan di Sungai Peniti Dalam 2, semua muara pembuangan sudah dangkal karena tidak ada perhatian dari Pemerintah, seperti di Anak Tirikan,” beber Wak Damak.

Lahan pertanian warga tergenang air yang mengakibatkan warga sulit bertanam

Posisi muara yang lebih tinggi dari lahan pertanian diduga jadi penyebab genangan air.

Adapun saluran pembuangan yang mesti dinormalisasi diperkirakan kurang lebih sepanjang 1,5 km yang membutuhkan perhatian dari Pemerintah.

Dari keterangan Ketua RT, banjir yang terjadi juga akibat dampak dari pembukaan lahan perkebunan Sawit.

” Ada kemungkinan ini dampak dari perkebunan sawit PT Muara Sungai Landak (PT MSL). Karena sebelumnya di daerah kami ini tidak pernah terjadi hal semacam ini, dulu hasil tanaman padi warga melimpah ruah,” terangnya.

Karena sumber pencarian terputus, warga disekitar untuk memenuhi kebutuhan harus mencari kerjaan keluar kampung.

” Ya, karena kami tidak bisa menanam terpaksa harus mencari keluar, mencari upahan nebas dan sebagainya, kalau tidak kami mau makan apa..? Karena hanya itu yang menjadi penghasilan kami disin,” ucap RT dengan wajah sedih.

Wak Damak berharap ada perhatian dari pemerintah khususnya di Kementerian PU.

” Kami berharap ada perhatian dari Pemerintah khususnya di Kementerian dan Dinas PU Bidang Sumber Daya Air (SDA) untuk bisa melakukan normalisasi di saluran yang telah di sebutkan tadi,” tutupnya.

Wak Damak, salah Seorang Ketua RT di Dusun Raden Wijaya

Hal senada disampaikan Yayan, warga setempat, bahwa dirinya sudah beberapa kali mengajukan ke pihak terkait perihal keluhan yang dialami warga.

” Dengan adanya genangan air yang tidak ada surut, kami membuat laporan ke Desa, ke Camat, Bupati dan ke Dewan. Bahkan kita juga mencoba membuat pengajuan ke PU Provinsi, namun sudah beberapa tahun ini belum ada titik terangnya,” ujar Yayan.

Timbul pertanyaan yang dikemukakan Yayan seolah ada pembiaran untuk daerahnya.

“Pada awalanya desa kami ini merupakan lumbung padi, namun sekarang sudah tidak bisa panen bahkan menanam. Disini seolah belum ada kepedulian dari Pemerintah dan belum terbuka pintu hatinya apa sebenarnya yang diinginkan oleh masyarakat disini khususnya di Parit Latong sekitar, mau diapakan warga kami disini” kata Yayan penuh tanya.

Menurut keterangan Yayan selama adanya kejadian banjir belum pernah mendapat bantuan dari Pemerintah.

” Pada dasarnya kami tidak bisa hidup tanpa adanya sandang dan pangan, selama ada kejadian ini belum ada kami menerima bantuan dari Pemerintah, karena daerah kami dianggap tanggung karena banjir tidak sampai ke Bumbung, artinya masyarakat kami aman aman saja, namun mereka lupa bahwa laporan genangan air sudah kami sampaikan,”cetus Yayan.

Ia berharap kedepannya ada perhatian dari Pemerintah.

” Melalui media ini kami sampaikan, bahwa kami berharap kepada Pemerintah buka hati untuk tinjau kami, datangi kami, apa yang akan kami buat apa yang kami inginkan, agar Pemerintah dapat memikirkan kedepannya apa yang terbaik buat kami,” harap Yayan.

Yayan, Warga Dusun Raden Wijaya/Parit Latong

” Harapan kami agar normalisasi sungai dapat dilakukan, karena kalau ini tidak dilakukan, meski parit-parit yang di dalam dibersihkan, keadaan tidak akan normal jika sungai pembuangan tidak di normalisasi,” tambahnya.

Yayan menuturkan, bahwa sebelum adanya perkebunan sawit, tidak ada kebanjiran separah itu.

” Sebelum ada perkebunan tidak pernah banjir seperti ini, kalau pun ada banjir paling 2 atau 3 jam sudah surut, karena hutan untuk menyerap air masih utuh, tidak seperti saat ini, air menggenang seperti kolam tidak kunjung surut hingga menghambat pencaharian dan perekonomian warga,” pungkasnya.

Ditambahkan Ismail, bahwa nomalisasi irigasi yang diinginkan masyarakat bukan sekedar membuang rumput.

” Ada zona-zona pembuangan, pembuangan yang mengarah ke arah sungai besar (sungai Kapuas) itu yang diharapkan agar dinormalisasi, bukan Pemerintah datang dengan menganggarkan dana yang minim, dengan memasukan alat yang bukan kapasitasnya, sehingga bukan menjadi solusi malah menambah beban karena yang digali hanya daerah di dalam,” timpal Ismail.

Lanjut Ismail, bahwa ada 5 aliran pembuangan yang diharapkan bisa untuk dinormalisasi.

“Pertama sungai Parit Kebayan, Parit Haji Husin, sungai Haji Usman, sungai Parit Bila dan sungai Peniti. Itu merupakan pembuangan menuju arah Kapuas,” kata Ismail.

Sementara itu, Kepala Desa Jungkat Ramlan menerangkan, bahwa pihaknya sudah berupaya untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh warganya.

Ket. Foto : Kepala Desa Jungkat, Ramlan (kiri), saat menyerahkan proposal kepada Kabid SDA PU Provinsi Kalbar, Iskandar Zulkarnaen (kanan, kaca mata)

“Sejak kepemimpinan saya, saya dobrak langsung ke PU provinsi, yang saat itu ke Kabid SDA, Zulkarnain, kita mengajukan proposal, namun belum ada tindaklanjutnya,” terang Ramlan saat di temui di ruang kantornya. Senin (13/09/2021).

Diterangkannya, bahwa sejak masa Pj. Kades juga sudah berkomunikasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten terkait perihal tersebut.

” Bahkan saya sempat mengundang Wakil Bupati untuk masuk ke dalam meninjau keadaan langsung ke lokasi. Dan tindaklanjuti dengan upaya melibatkan pihak Perusahaan, namun hanya dibagikan dalam yang dapat di bersihkan rumput dalam parit-parit (saluran) karena diduga penyebab banjir ini karena adanya kebun sawait,” katanya lagi.

Upaya yang dilakukan dijelaskan Kades belum maksimal.

” Upaya itu belum maksimal dan air masih terkandung, hanya nol koma sekian persen. Ada saluran utama yang saat ini sudah tertutup, bahkan kita bisa berjalan di atas rumput yang menyumbat saluran itu,” jelasnya.

Menurut keterangan Kades ada sekitar 240 KK dan ribuan jiwa warga yang mengalami dampak.

” Ada Ribuan jiwa didalam sana, ini menjadi keprihatinan kita, sementara kita mau berbuat dengan dana desa yang terbatas apalagi di masa Pandemi ini anggaran banyak terpotong, dulu tempat ini jadi lumbung padi, sekarang mereka harus beli beras sekilo dua kilo. Sejauh ini kita tetap berupaya, dan berharap ada perhatian dari pemerintah Provinsi maupun Pusat agar apa yang jadi keluhan warga bisa teratasi,” pungkasnya.  (Jon/ Vr).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed