Ketapang, Kalbar —Beritainvestigasi.com// Kerusakan fatal pada pipa induk Perumdam Tirta Pawan di Jalan S. Parman, tepatnya di depan Lapas Ketapang, memicu krisis air bersih bagi ribuan warga. Pipa berdiameter besar tersebut putus setelah terkena galian ekskavator proyek renovasi gorong-gorong pada Rabu (23/9/2026).
Tumpahan air dari pipa yang pecah sempat menggenangi area galian dan menghentikan total distribusi air bersih ke sedikitnya 17 ruas jalan utama. Wilayah terdampak meliputi Jalan Lingkar Kota, Sukaharja, Kalinilam, Paya Kumang, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan S. Parman, hingga Jalan HOS Cokroaminoto. Kelumpuhan pasokan ini memicu keluhan meluas dari warga yang mengalami kekeringan air selama beberapa hari.
Menanggapi gejolak masyarakat, Komisi 4 DPRD Ketapang bersama Dinas PUPR meninjau langsung lokasi pembangunan drainase tersebut pada Selasa (29/9/2026).
Kepala Dinas PUPR Ketapang, H. Denneri, mengonfirmasi bahwa insiden ini terjadi di tengah pengerjaan drainase dalam kota. Ia menyebutkan perbaikan jaringan air bersih sudah dibicarakan oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) teknis, sementara jaringan PLN yang sempat terganggu kini telah pulih.
”Kedepannya perlu dibangun kerja sama dan regulasi khusus dengan pihak ketiga terkait pelayanan publik. Mengenai tuntutan ganti rugi warga, hal itu merupakan tanggung jawab penyedia layanan (PDAM). Jika PDAM menerapkan sanksi atau denda, tentu akan dibicarakan lebih lanjut bersama pelaksana proyek,” tegas Denneri di lokasi tinjauan.
Di tempat yang sama, Pengawas Lapangan, Radiansyah, menyatakan pihaknya langsung berkoordinasi begitu kebocoran terjadi. Ia mengklaim setiap aktivitas penggalian selalu didampingi oleh pihak terkait seperti Telkom dan PDAM.
Senada dengan pengawas, perwakilan pelaksana proyek menjelaskan bahwa posisi pipa berada di dalam struktur box lama yang memang harus dibongkar dan diganti.
”Begitu pipa terlihat, kami lakukan pemecahan karena pipa tersebut sudah tertanam dalam pengecoran box bangunan lama. Kami bahkan lembur dua hari dua malam bersama tim PDAM agar pipa bisa tersambung kembali. Soal kompensasi kerugian, kami akan mendiskusikannya dengan pihak PDAM,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi 4 DPRD Ketapang, Riyan Heriyanto, memastikan pasokan air kini sudah kembali normal setelah dilakukan penanganan marathon. Namun, ia menyayangkan respons perbaikan dari pihak Perumdam Tirta Pawan yang dinilai lambat.
”Aliran air Perumdam yang sebelumnya merugikan warga kini sudah bisa digunakan kembali. Dari peninjauan kami, pendampingan di lapangan sebenarnya sudah ada, tetapi respons teknis dari pihak PDAM memerlukan waktu lebih dari 1×24 jam untuk mendatangkan peralatan,” ungkap Riyan.
Riyan menegaskan agar kejadian serupa tidak terulang pada proyek-proyek mendatang yang menggunakan APBD Kabupaten Ketapang.
”Setiap pembangunan yang menggunakan anggaran pemerintah harus berjalan efektif, efisien, dan tetap menjaga lingkungan serta fasilitas publik di sekitarnya,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditayangkan belum ada keterangan resmi dari pihak PDAM media masih berupaya menghubungi pihak terkait guna mendapatkan perimbangan berita. (Verry)















