oleh

Portal Adat Dibongkar, Warga Tahan Kendaraan Milik PT CUS

Ket. Foto : TKP (lokasi portal) yang dihadiri petugas dari Polsek dan Koramil Simpang Dua

Ketapang, Kalbar- Beritainvestigasi.com. Warga desa Kamora menahan mobil milik PT. CUS, lantaran Portal yang dipasang melalui Ritual Adat dibongkar orang yang tidak dikenal.

Informasi yang dihimpun media ini, warga sempat marah karena menganggap pihak perusahaan tidak menghormati adat.

Warga menduga pembongkaran portal tersebut dilakukan oleh orang perusahaan, sehingga warga menahan mobil milik perusahaan yang melintas sebagai jaminan penyelesaian Adat.

Elyas, Kepala Desa Kamora membenarkan adanya kejadian pembongkaran itu.

” Info pembongkaran itu benar. Untuk oknum siapa yang membongkarnya sementara belom tau pasti, namun saya yakin tidak ada yg berkepentingan selain perusahaan itu sendiri,” kata Kades di konfirmasi melalui sambungan WhatsApp Senin (13/09/2021).

Elyas mengatakan, untuk tindak lanjutnya dipastikan oknum yang merusak portal adat tersebut akan di berikan sanksi hukum adat sesuai dengan adat yang berlaku.

“Karena sudah dimuat dalam berita acara portal adat. Karena sudah menyangkut harkat dan martabat adat Dayak,” ujar Elyas.

Ketua DAD Simpang Dua, Martinus Dadho saat dihubungi melalui pesan WhatsApp mengatakan, bahwa memang ada warga menahan mobil milik perusahaan namun dititipkan di Polsek.

” Mobil dititip di Polsek untuk diamankan yang dibuat dalam berita acara adat,” kata Martinus Dadho.

Dadho menjelaskan  pengrusakan alat peraga Portal Adat terjadi diperkirakan pada Jumat malam.

“Pengrusakan itu diperkirakan terjadi pada Jumat malam Sabtu (11/09/2021),” jelas Dadho.

Kapolsek Simpang Dua, IPDA Ali Mahmudi, S.H, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa kasus tersebut sedang didalami.

” Masih ditelusuri mas, nanti kita kabari info terupdade,” kata Kapolsek dikonfirmasi via WhatsApp Senin (13/09/2021) malam.

Sebelumnya diberitakan ” Tuntut Hak Plasma Anggota Koperasi Kaksanakan Ritual Adat dan Portal Blok Kebun milik PT Cipta usaha Sejati(PT CUS)” Yang berada di Desa Kamora, Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang pada Kamis(09/09/2021).

Informasi yang dihimpun oleh media ini, bahwa portal dilakukan karena pihak Perusahaan belum menyerahkan kebun plasma yang menjadi hak masyarakat setempat.

Ketua Koperasi Bongat Sejahtera Sejati, Julianus Tommy di konfirmasi melalui sambungan WhatsApp mengatakan, portal adat dilaksanakan guna menuntut beberapa hak warga yang hingga kini belum dipenuhi oleh pihak perusahaan.

“Beberapa hal yang menjadi tuntutan warga yakni: “Meminta Perusahaan menyerahkan kebun kemitraaan/plasma yang menjadi hak masyarakat anggota koperasi Bongat Sejahtera Sejati(KBSS),” kata Julianus Tommy Sabtu (11/09/2021).

“Serta menetapkan lahan kebun kemitraan 20 persen dari 1.200 hektar. Kemudian segera laksanakan pembahasan perjanjian kerja sama yang harus ditandatangani paling lambat sejak portal adat dilakukan,”lanjutnya.

Menurut Tommy, aksi portal oleh pihaknya bukan tanpa alasan. Semuanya telah melalui pertimbangan dan alasan.

“Pertama; hasil pertemuan di Dinas Perkebunan Ketapang 29 April 2015 lalu.

Kedua; surat keputusan Gubernur Kalbar nomor 481/Disbun/2020 tanggal 8 Mei. Surat itu tentang penetapan peserta kebun masyarakat sekitar koperasi perkebunan Bongat Sejahtera Sejati yang bermitra dengan PT CUS. Peserta ditetapkan berjumlah 169 orang.

Ketiga; hasil pertemuan di Disbun Provinsi Kalbar pada 3 September 2021 tentang penyelesaian masalah pembangunan kebun masyarakat sekitar koperasi Bongat Sejahtera Sejati.

Keempat; perwakilan PT CUS yang hadir dalam rapat mediasi penyelesaian masalah plasma koperasi menolak menandatangani berita acara hasil rapat di Disbun Provinsi tersebut,”jelas Tommy.

Ia menyebut, adapun dasar pelaksanaan portal terakhir adalah hasil rapat anggota koperasi Bongat Sejahtera Sejati.

“Yang kita gelar 6 September 2021 kemarin,” tambah Tommy.

Tommy menegaskan, jika tuntutan warga diabaikan, maka terhadap lahan 240 Ha dalam HGU PT CUS menjadi milik koperasi.

” Mabali 3 divisi 5 blok E30-E34 dan F28-F31 tahun tanam 2013 seluas 158 Ha, blok E35-E36 tahun tanam 2014 seluas 12 Ha, blok G31 tahun tanam 2015 seluas 8 Ha, blok E29, F32-F36 seluas 64 Ha tahun tanam 2016, menjadi milik koperasi,”tegasnya.

“Apabila ada yang buka portal, siaapapun dia yang membuka portal adat dayak, khususnya adat desa Kemora, maka mendapat sanksi adat 80 real. Nama adatnya berdagang balok,”ujar Tommy.

“Semua point tuntutan sudah kita tuangkan dalam berita acara. Namun hanya pihak perusahaan saja yang masih tidak menandatangani berita acara itu,” pungkasnya.  (Sdi).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed