
Bintan Kepri —Beritainvestigasi.com Bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H, Kampung Busung menjadi saksi peristiwa bersejarah dan sarat makna. Dato’ Sri Tengku Zulkifli Bin H. Tengku Ibrahim beserta keluarga besar dari Malaka melakukan ziarah ke makam leluhur mereka, Sultan Mahmud Syah I — Sultan ke-8 sekaligus Sultan terakhir Kesultanan Malaka yang gugur dalam perjuangan melawan penjajahan.(27 Juni 2025)
Majlis Haul ke-497 tahun wafatnya Baginda Sultan ini digelar untuk pertama kalinya di tempat peristirahatan terakhir beliau. Dalam suasana haru dan penuh kekhidmatan, kegiatan ini menjadi momen awal penguatan kembali ikatan sejarah antara dua negeri serumpun: Malaka dan Kepulauan Riau.
Ketua Perkumpulan Zuriat dan Waris Tun Telanai, Tun Muhammad Amin Bin Tun Ahmad, menyambut hangat rombongan dari Malaka. Ia menyampaikan bahwa haul ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga dan meneruskan warisan sejarah Melayu kepada generasi mendatang.
“Majlis ini bukan hanya mengenang sosok Sultan Mahmud Syah I, tetapi juga menyatukan kembali darah dan sejarah yang diwariskan kepada kita sebagai anak bangsa Melayu.” ungkap
Tun Muhammad Amin Bin Tun Ahmad
Ketua Perkumpulan Zuriat Tun Telanai
“Haul ini menjadi titik temu antara zuriat, sejarah, dan masa depan. Dari makam ini, kita menumbuhkan kembali rasa hormat kepada para pendahulu yang mempertaruhkan jiwa demi marwah bangsa.”
“Kami berharap majlis seperti ini terus berlanjut, agar generasi muda tidak kehilangan jejak dan jati diri sebagai pewaris tanah Melayu yang berdaulat.”
“Ziarah ini bukan sekadar ritual, tapi bentuk kasih dan tanggung jawab kita menjaga pusaka sejarah yang hampir dilupakan.”
Hadir dalam kegiatan ini Kepala Desa Busung, Babinkamtibmas Desa Busung, serta para tokoh masyarakat yang turut memberikan penghormatan dan mendukung acara. Mereka menilai bahwa haul ini merupakan langkah penting dalam merawat nilai-nilai kebangsaan, keislaman, dan kebudayaan Melayu yang luhur.
Acara ini direncanakan akan menjadi agenda tahunan sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak perjuangan Sultan Mahmud Syah I. Semangat kebersamaan dan nilai keikhlasan begitu terasa, seakan menghidupkan kembali warisan spiritual dan patriotik dari sosok sultan yang syahid mempertahankan negeri.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati leluhurnya. Dari jejak para sultan, kita belajar arti keberanian, pengorbanan, dan harga diri.” tutur Ketua rombongan pesiarah Dato’ Sri Tengku Zulkifli Bin H. Tengku Ibrahim
“Kita tidak hanya menziarahi makam, tapi menziarahi sejarah yang membentuk jati diri Melayu.”
“Dengan haul ini, kita menautkan yang terputus, merawat yang hampir terlupa, dan menghidupkan warisan untuk anak cucu kita.” Sub:TAS.
(A.Ridwan)









