
Minahasa Tenggara – Sulut – Beritainvestigasi.com. Meski sudah diberitakan media online beberapa hari yang lalu, Mafia BBM bersubsidi di SPBU Belang tidak takut, bahkan semakin marak.
Team Investigasi yang mendapat info dari Masyarakat setempat Rabu (12/10/2022) pukul 23:34 mengatakan tiap malam pengisian BBM bersubsidi di isi lewat ratusan galon.
“Kami selaku masyarakat semakin sulit mendapatkan BBM bersubsidi,” ujar salah seorang masyarakat yang tak ingin disebutkan namanya.
Atas informasi tersebut, Team Investigasi dan Wakil Sekretaris Lembaga Perlindungan Konsumen yang dipimpin, Wisye Maramis beserta Wakil Ketua LSM LAMI, Jaino Maliki melakukan pengembangan dengan menyusuri SPBU Belang pada Rabu (12/10/2022).
“Sangat terukur dan terstruktur rapi kerja mereka, itu bisa dikatakan profesional,“ kata Jaino.
Jaino juga menggambarkan mekanisme para pelaku membeli Pertalite maupun Solar bersubsidi di SPBU resmi dengan menggunakan Galon.
Pencurian BBM bersubsidi seperti itu, kata Jaino, jelas merugikan Negara. Pasalnya hasil curian yang berton-ton Solar subsidii dijual kembali ke berbagai Perusahaan Industri dengan harga non subsidi.
“Anehnya, setiap pembelian BBM jenis Pertalite ada biaya tambahan sebesar Rp. 15.000 per galon ukuran 35 liter. Kalau galon ukuran 25 liter biaya tambahan Rp. 10.000 dan BBM bersubsidi jenis Solar dijual dengan harga Rp. 7.850 per liter, selisih harga Rp. 1.050. Semua masuk ke kas Pemilik SPBU,” Jaino menceritakan kembali pernyataan salah satu Karyawan bagian Operator di SPBU tersebut.
“Bayangkan, jika mereka menjual BBM jenis Pertalite 400 Galon × Rp. 15.000 = Rp. 6.000.000 dalam sehari. Kalau BBM bersubsidi Solar dijual per liter Rp. 7.850 selisih harga Rp. 1.050 perliter × Rp 4.000 = Rp 4.200.000 keuntungan yang didapatkan oleh pihak SPBU di luar SOP Pertamina dengan total keuntungan Rp. 10.200.000,“ ulas Jaino.
Lanjutnya, mereka melakukan pengisian Solar di SPBU dalam keadaan lampu SPBU dipadamkan. Komplotan ini berbagi peran. Ada yang berperan sebagai pembeli solar di berbagai SPBU, ada yang mengawasi dan ada yang bagian mengkondusifkan di lapangan,“ rincinya.
Sambung Jaino, adapun Bos Besar mereka yang membekingi diduga Oknum Aparat. Biasanya tidak muncul jika tidak terjadi permasalahan yang benar-benar krodit di lapangan.
“Biasanya mereka ada bos besarnya dan pembekingnya itu kebanyakan dari oknum aparat. Persoalan adanya ikut campur tangan oknum Pertamina, itu kita belum dapati laporan di lapangan,“ ucapnya.
Jaino berharap instansi terkait segera melakukan penindakan tegas terhadap para pencuri BBM bersubsidi solar dan menutup ijin SPBU yang menjadi tempat penyedotan solar dan pertalite subsidi di wilayah Desa Tababo, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara yang disinyalir sangat kebal hukum.
Sampai berita ini ditayangkan, orang yang diduga kepercayaan pemilik SPBU memberi alasan melalui pesan WhatsApp, bahwa pimpinannya tidak berada di tempat sehingga Awak Media tidak dapat mengkonfirmasi aduan masyarakat tersebut. (Chintya/David).
Editor : Wesly (Asesor Sertifikasi Kompetensi Wartawan/SKW).














