Tanjungpiang, Kepri — Beritainveatigasi.com Buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman karya wartawan senior Ridarman Bay dibedah dalam diskusi yang berlangsung di Kantor Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), Jalan Tanjung Uban Lama, Kompleks Ruko Central Kencana, Batu 11, Tanjungpinang, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Ridarman Bay sebagai penulis, Darson selaku Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sebagai pembedah pertama, serta Ketua Umum KJK Ady Indra Pawennari sebagai pembedah kedua. Diskusi dipandu Ahmad Yani bersama rekan sebagai moderator.
Turut hadir Dr. Rosnawati dan Dr. Maryamah, keduanya komisioner Bawaslu Kepri; Dr. Bismar Arianto, M.Si., akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah); Dr. Yusuf Mahidin, Ketua Bawaslu Kota Tanjungpinang; serta Dr. Saripuddin, Wakil Rektor IAI Miftahul Ulum.
Kehadiran para tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari hukum, pemerintahan, pengawasan pemilu, akademisi hingga rektorat, menunjukkan bahwa karya Ridarman Bay mendapat perhatian lintas sektor.
Darson: Wartawan Harus Punya Buku
Dalam pemaparannya, Darson menegaskan pentingnya wartawan menghasilkan karya buku sebagai bentuk kontribusi intelektual sekaligus jejak perjalanan karier jurnalistik.
“Wartawan itu mesti punya buku. Karena itu menulislah,” ujar Darson dengan serius.
Menurutnya, tradisi menulis buku perlu terus didorong di kalangan wartawan. Buku tidak hanya menjadi kumpulan pemikiran, tetapi juga warisan intelektual yang dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi mendatang.
Ady Indra Pawennari Soroti Integritas Penulis
Ketua Umum KJK, Ady Indra Pawennari, yang tampil sebagai pembedah kedua, menyampaikan harapan senada terkait pentingnya profesionalisme dan integritas dalam dunia kepenulisan.
Ady menekankan perbedaan antara penulis profesional yang menjunjung tinggi integritas, seperti Ridarman Bay, dengan oknum penulis yang hanya mengejar keuntungan pribadi.
Dalam kesempatan tersebut, Ady memuji konsistensi Ridarman Bay dalam menyelesaikan karya hingga berhasil diterbitkan. Ia juga mengingatkan para jurnalis agar menjadikan profesionalisme dan integritas sebagai teladan dalam menghasilkan karya jurnalistik maupun buku.
Bismar Arianto: Wartawan Jangan Hanya Menulis Berita
Sementara itu, Dr. Bismar Arianto, M.Si., menekankan bahwa wartawan seharusnya mampu menghasilkan karya yang menjadi dokumentasi pemikiran, bukan sekadar menuliskan berita.
Bismar menyoroti menurunnya tradisi kolumnis di Provinsi Kepri. Ia mengajak para penulis dan wartawan untuk kembali mengembangkan tulisan analitis yang bertanggung jawab, sehingga karya yang dihasilkan memiliki nilai pemikiran dan manfaat bagi masyarakat.
“Buku merupakan catatan sosial yang dapat memperluas wawasan generasi mendatang,” demikian pokok pandangan Bismar dalam diskusi tersebut.
Menjaga Nurani di Tengah Perubahan Zaman
Buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman menjadi ruang refleksi mengenai moral, tanggung jawab dan suara hati di tengah perubahan zaman. Diskusi ini tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga mengangkat pentingnya tradisi literasi dan karya intelektual bagi insan pers.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak untuk terus menjaga semangat menulis, memperkuat integritas, serta menghadirkan karya yang mampu menjadi dokumentasi pemikiran dan catatan sosial bagi generasi mendatang.
(A.Ridwan))









