oleh

Eksistensi Musik dan Tarian Tradisional di Desa Majelis Hidayah  

Penulis : I Dewa Gede Bayu Agastya, (Peserta KKN Kebangsaan Posko 19)

Tanjung Jabung Timur, Jambi – Beritainvestigasi.com.Musik selain sebagai sarana hiburan mempunyai peranan penting dalam tradisi adat masyarakat di Indonesia. Seni musik merupakan aktivitas seni yang dapat didengar, dinikmati, dan dirasakan melalui sebuah penyajian irama lagu, baik dalam berolah vokal maupun permainan instrumen musik.

Meskipun sifatnya relatif, segala bentuk karya musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan nilai-nilai estetika seni. Secara estimology kata nilai estetika pada dasarnya tersusun dari dua suku kata.  Yaitu, Aestetika dan Aesthesi.

Aestetika sendiri memiliki artinya, yaitu; hal-hal yang bisa diserap panca indra, sedangkan Aesthesis yaitu penyerapan panca indra atau sense perception. Jadi, secara signifikan, setiap dari seluruh kesenian yang ada, mengandung nilai estetikanya sendiri, begitu pula kesenian musik. Secara umum, kemampuan berkesenian telah dimiliki setiap manusia sejak lahir sesuai dengan kapasitas biologis yang dimiliki, karena manusia dilahirkan dengan memiliki panca indra dan kemampuan untuk menggunakan rasa dari apa yang dilihat.

Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak suku hingga mencapai 1.340 dari 300 klompok etnik, tentunya, dalam setiap wilayah memiliki beragam budaya dan tradisi yang berkembang di masing-masing daerah.

Kesenian tradisional adalah salah satu unsur seni yang dapat memberikan dukungan terhadap kemajuan kebudayaan nasional. Kesenian daerah mempunyai peran yang beragam, contohnya adalah kesenian musik yang fungsinya sebagai ritual adat, seni tari sebagai pertunjukan yang dapat menghibur, serta seni kerajinan kriya yang dapat membantu menunjang perekonomian.

Jenis kesenian tradisional pada saat ini sangat beragam. Keragaman tersebut dipengaruhi oleh latar belakang timbulnya kesenian itu dan kondisi masyarakat pendukungnya. Seperti contoh, kesenian musik yang umurnya sudah tua di daerah Provinsi Jambi, yaitu kesenian musik daerah yang bernama musik Talempong. Kesenian musik ini mempunyai keterkaitan dengan ritual keagamaan serta memiliki fungsi lain yaitu sebagai sarana pertunjukan hiburan.

Disitu ada manusia, maka seni terutama seni musik serta seni tari akan berkembang tak terkendali. Bahkan di Indonesia sendiri mempunyai berbagai macam seni musik, baik itu yang tergolong dalam musik tradisional, campuran antara tradisional, dan modern.

Majelis Hidayah merupakan sebuah desa yang terletak dalam (daerah) Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Indonesia. Desa ini memiliki kesenian musik serta tari. Kedua kesenian ini memiliki kaitannya dengan tradisi yang lestari hingga hari ini. Musik Tradisonal Rarak serta Tari Inay merupakan kesenian khas dari desa ini, meskipun musik Rarak beserta tari Inay tidak secara langsung lahir di desa Majelis Hidayah, namun kesenian ini tetap memiliki fungsi dan makna tersendiri baik itu sebagai sarana hiburan pada saat upacara adat serta sarana pertunjukan untuk keagamaan. Kesenian musik tradisonal Rarak mempunyai perbedaan pada setiap wilayahnya. Kesenian musik rarak dibagi berdasarkan jumlah instrument serta fungsinya. Adapun jenis kesenian musik Rarak di daerah Sumatra yang paling terkenal ada 5 macam. Kelimanya itu dibedakan oleh alat musiknya, yang juga berbeda dalam lagu dan peranannya.

Jenis kesenian Rarak dibagi menjadi 5 yaitu: Rarak Celempong Onam, Rarak Celempong Tingka, Rarak Oguang Kenek (rarak gong kecil), Rarak Gondang Godang/Rarak Jaluar, Rarak Silek (rarak gendang besar), Rarak Oguang Godang (rarak gong besar).

Sejarah kesenian musik tradisional Rarak yang ada di desa Majelis Hidayah, menurut penuturan Narasumber, bermula karena masyarakat Sumatra yang basis pekerjaanya yaitu sebagai nelayan serta petani di sector perkebunan sering berkunjung untuk menjual hasil pekerjaanya, baik itu dari tangkapan ikan maupun hasil panen perkebunan hingga lintas Negara, tepatnya ke Negara tetangga yaitu, Negara Malaysia.

Alat musik Rarak merupakan oleh-oleh dari Malaysia yang dibawa pulang sebagai penghibur selama perjalanan di kapal. Pembelian alat-alat Musik Rarak sebagai oleh-oleh dari perantau harus berhenti saat pendudukan Jepang di Sumatra Barat yang dimulai dari tahun 1942. Sejak kedatangan Jepang masyarakat mencoba untuk memproduksi instrument musik Rarak secara mandiri hingga berkembang sampai hari ini.

Musik Rarak berkembang di wilayah Suku Melayu. Musik Rarak yang berada di wilayah desa Majelis Hidayah seiring berjalannnya waktu disebut dengan kesenian musik Talempong, nama ini di ambil dari nama instrumentnya.

Menurut penuturan narasumber sekaligus senimam adat yang berasal dari desa Majelis Hidayah, Azhar Syamudin Abdullah, musik Rarak ini mempunyai kaitan dengan tari tradisonal yang bernama tari Inay. Tari Inai merupakan tarian khas melayu yang dianggap sakral. Biasanya tarian ini ditampilkan saat upacara pernikahan masyarakat setempat, tepatnya pada malam pemasangan inai pada pengantin wanita sebelum duduk di pelaminan. Fungsi tarian ini yaitu sebagai simbol ritual untuk menjaga calon pengantin wanita dari gangguan supernatural. Baik dari manusia maupun dari makhluk halus. Selain itu, fungsi lainnya adalah sebagai hiburan dan ungkapan estetik. Sebelum pelaksanaan pernikahan, masyarakat akan mengadakan upacara adat malam berinai, dimana calon mempelai akan diberi inai (pewarna kuku atau tangan), kemudian ditepungtawari.

Sebagai informasi, tari Inai telah disahkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Selain untuk mengiri tari Inay, musik talempong juga mempunyai pertunjukannya sendiri dengan memiliki 6 buah lagu, khususnya yang dimainkan di desa Majelis Hidayah.

Musik Rarak tergolong alat musik perkusi karena untuk memainkannya yaitu dengan cara di pukul (Membranopone..) Musik tradisional Rarak pada umumnya memiliki beragam instrument, tapi beda dengan yang ada di Desa Majelis Hidayah, musik Talempong disini hanya menggunakn beberapa instrument saja, yaitu kendang 2 buah, 1 barung Talempong , dan 2 buah gong. Kesenian musik Rarak tergolong ke ranah musik perkusi, musik yang tergolong musik perkusi pada dasarnya yaitu benda apapun yang bisa menghasilkan suara karena dipukul, dikocok, digosok, diperkarakan, atau dengan cara apapun yang bisa membuat getaran pada benda tersebut hingga menghasilkan suara.

Musik Rarak mempunyai nama pada setiap instrumentnya, musik Rarak yang berada di wilayah desa Majelis Hidayah mempunyai beberapa instrument yaitu :

Talempong/ Calempong
Alat musik Talempong / Calempong umumnya terbuat dari bahan kuningan. Talempong berwujud lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 sentimeter, pada bidang bawahnya bocor sedangkan pada bidang atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyinya dibuat dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya (Panggul). Bentuk talempong menyerupai instrumen bonang pada gamelan jawa.

Buah Aguang / Gong.
Alat musik tradisional Gong telah dikenal sejak lama, dan merupakan ciri khas bagi permainan musik-musik tertentu dalam masyarakat Melayu. Pada masa lalu alat musik ini memiliki fungsi-fungsi gong yang sangat beragam, tidak hanya sekedar menjadi alat pelengkap permainan musik, tetapi sebagai alat pemberitahuan dalam penyampaian berita pada masa lalu. Secara umum Gong merupakan alat musik yang terbuat dari leburan logam (perunggu dengan tembaga) dengan permukaan yang bundar (dengan atau tanpa Pencu).

Gong dapat digantung pada bingkai atau diletakkan berjajar pada rak, atau bisa ditempatkan pada permukaan yang lunak seperti tikar.

Selain itu, ada juga gong genggam yang dimainkan sambil berjalan ataupun menari. Gong yang memiliki suara rendah, ditabuh dengan pemukul kayu yang ujungnya di balut dengan karet, katun, atau benang.

Ket. Foto : Gong

2 Buah Gendang / Khendang
Kendhang atau gendang adalah instrumen dalam gamelan yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini bisa dibunyikan dengan tangan, maupun dengan alat bantu. Kulit gendang biasanya menggunakan kulit sapi, sedangkan batangnya terbuat dari kayu nangka. Alat musik ini mempunyai peran yang sangat penting selain sebagai pemeran ritmis, gendang merupakan penentu dari selesai atau lanjutnya suatu lagu.

Ket. Foto : Gendang

Seniman Rarak yang ada di desa Majelis Hidayah saat ini sudah mulai langka, kebanyakan para orang tua yang memang telah mahir memainkannya.

Perkembangan teknologi digital sedikit banyak mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam mengapresiasi kesenian tradisional. Generasi sekarang lebih banyak mengenal jenis seni yang ada di komputer, laptop, dan gawai dibandingkan dengan budaya daerahnya sendiri.

Factor perkembangan kesenian pada setiap daerah tentu didukung dari sumber daya masyrakatnya. Tapi, pada zaman digital ini masih banyak anak muda yang kian melupakan kesenian daerahnya karena beranggapan bahwa kesenian yang di tampilkan baik itu dari musisi atau penarinya hanya boleh dimainkan dan ditarikan oleh kalangan orang tua saja. Stigma ini kerap muncul pada daerah yang mempunyai tradisi kesenian kuno, sehingga kesenian daerahnya kian tenggalam dan dilupakan, contoh nyatanya dari bermacam lagu yang pernah dimainkan hanya satu atau dua yang masih di ingat saat ini, karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk peduli akan perkembangan kesenian di daerahnya serta banyak yang mengganti peran musik tradisi dengan menguunakan sound system (musik baru ).  (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed