
Batam’ Kepri – Beritainvestigasi.com pengembangan energi panas bumi (geothermal) dinilai menjadi salah satu kunci utama transisi energi hijau di Indonesia. Ketua ISEI Cabang Batam sekaligus dosen UIB, Dr Suyono Saputra, menyebut geothermal sangat potensial mendukung target net zero emission 2060, meski realisasinya masih berjalan lambat (26/2/2026).
“Target pemerintah cukup optimis 2060 sudah net zero emission. Tapi realisasinya memang masih lambat,” ujar Suyono dalam diskusi publik di Batam, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, keunggulan geothermal terletak pada kemampuannya menghasilkan listrik secara stabil (baseload). Namun, pengembangannya membutuhkan investasi besar dan teknologi tinggi. “Investasinya sangat besar. Pemerintah mungkin kesulitan mencari investor yang mau mengelola sumber panas bumi di Indonesia,” jelasnya.
Menanggapi isu viral perusahaan yang disebut terafiliasi Israel, Suyono menilai banyak informasi di media sosial yang menyesatkan. Ia menegaskan investasi tidak berkaitan dengan ideologi negara. “Investasi tidak mengenal batas negara. Bisnis tetap bisnis, jangan terlalu dikaitkan. Di media sosial banyak misleading,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pencabutan izin secara sepihak dapat berdampak buruk pada iklim investasi dan kepastian hukum. PT Ormat Geothermal Indonesia sendiri telah mengantongi izin sejak 2018 dan beroperasi sesuai regulasi nasional.
Selain mendukung energi hijau, proyek geothermal dinilai memberi dampak ekonomi besar bagi daerah. “Setiap ada pengembangan panas bumi, pasti akan menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Direktur Eksekutif BALAPI, Rikson P Tampubolon, menambahkan proyek energi harus dilihat dari kepentingan nasional dan manfaat jangka panjang. “Selama memberikan manfaat yang baik, seharusnya bisa diterima. Jangan sampai sentimen politik mengganggu kepentingan nasional,” pungkasnya.
(A.Ridwan)















