oleh

Pembangunan Lapen Diduga Tak Sesuai Spektek, Ini Alasannya..

Lampung Selatan – Beritainvestigasi.com. Program Pemerintah dengan mengucurkan Dana Desa (DD) yang tidak sedikit di tiap-tiap desa sejatinya untuk memajukan suatu desa. Baik dari segi infrastruktur, perekonomian maupun pemberdayaan masyarakat.

Diharapkan program tersebut dapat direalisasikan oleh Aparatur Desa, agar kemajuan desa yang dipimpinnya dapat lebih baik.

Namun, sering kali kita mendengar Oknum-oknum yang memanfaatkan jabatannya ‘menilep’ dana desa dengan berbagai macam cara guna memperkaya diri sendiri maupun golongannya.

Desa Sidomukti, Kec. Tanjung Sari, Lampung Selatan, baru-baru ini juga merealisasikan program yang bersumber dari dana desa dengan pembangunan fisik, yaitu, Rabat Beton di Dusun 1, dengan volume 100 m x 2,5 m x 0,15 m, dengan nilai Rp. 59.116.340.

Kemudian, Pembangunan Lapen di Dusun 2, dengan volume 600 m x 3 m x 4 cm, dengan nilai Rp. 250.176.200,-

Hal tersebut disampaikan Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Sidomukti, Nyono, kepada awak media ini. Rabu (24/11/2021).

” Untuk pembangunan Lapen 600 m x 3 m x 4 cm, memakai aspal sebanyak 31 drum. RAB-nya 34 drum,” kata Nyono menjawab pertanyaan Awak Media melalui chat WhatsApp. Rabu (24/11/2021).

Namun, terkait pertanyaan berapa material batu, scrining dan berapa kali dicotting, Nyono hanya menjawab; ketebalan 4 cm diatas Onderlagh.

Menanggapi jawaban Nyono tersebut, Sekretaris LSM Pembinaan Rakyat Lampung (PRL), Sukardi, S.H, yang
turut melihat langsung hasil pekerjaan pembangunan Lapen di Dusun 2, Desa Sidomukti pada hari Selasa (23/11/2021) menilai, secara teknis pekerjaan tersebut tidak maksimal.

Sebab, bila mengacu kepada spesifikasi dan teknis ( spektek )pembangunan berstandar SNI, jalan Lapen harus memiliki ketebalan 4 sampai 5 cm dari Underlag, sementara hasil pantauan secara kasat mata, batu dasar atau batu underlag masih banyak yg terlihat dari permukaan jalan dan diperkirakan hanya memiliki ketebalan 2 cm.

Kemudian, penyiraman aspal (cotting) yang semestinya tiga kali tingkatan, tapi didapat keterangan dari warga sekitar pihak pekerja hanya menyiramkan aspal satu kali yaitu setelah pengamparan dan pemadatan batu 2×1 cm.

“Jadi secara kasat mata, pekerjaan pembangunan Lapen tersebut diduga ada pengurangan volume material yang meliputi pengurangan batu split (5×3, 3×2 dan 2×1) dan pengurangan jumlah aspal. Dan ketebalannya juga setelah kita ukur hanya 2 cm,” tutur Sukardi saat diminta tanggapannya, Rabu (24/11/2021) malam.

Lanjut Sukardi, dengan temuannya dilapangan, ada dugaan pembangunan Lapen di Dusun 2 tersebut sudah menyalahi aturan yang ada atau bisa disebut terjadi pengurangan volume.

” Sah-sah saja TPK memberi jawaban seperti diatas, tapi kita juga kan sudah ke lokasi (lapen-red), dan kita duga ada pengurangan volume dalam pembangunan Lapen tersebut,” pungkas Sukardi.   (Wes).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed