
Penulis : Gusmatumi
Jurusan Manajemen, Semester 5
Mahasiswi STIE Pembangunan Tanjung Pinang
Tanjungpinang, Kepri – Beritainvestigasi.com. Pandemi Covid-19 yang membuat huru-hara di seluruh negara pada tahun 2019 dan 2020 cukup membuat dampak besar dalam hal apapun.
Dalam industri bisnis, pandemi ini menciptakan PHK dimana-mana, kebangkrutan dan kelesuan ekonomi. Para pelaku industri berusaha membangkitkan bisnis mereka kembali pasca pandemi, namun tentu ini tidak mudah karena selain tantangan akan menciptakan kebiasaan baru, mereka juga diharuskan memikirkan strategi-strategi baru agar bisnis mereka dapat survive di era yang masih tak pasti ini.
Pemerintah tidak hanya berfokus pada penanggulangan pandemi dan masalah kesehatan. Pihak mereka juga berusaha membangkitkan kembali ekonomi yang lesu. Mulai dari menggiatkan UMKM-UMKM di berbagai bidang hingga memberikan bantuan-bantuan ekonomi agar masyarakat juga dapat mendirikan usaha.
Sebagaimana yang diketahui, UMKM termasuk sektor yang banyak bertahan di era pandemi global.
Berbicara tentang industri bisnis kecil maupun besar, tentu diperlukan penataan-penataan baru agar bisnis dapat beradaptasi dengan keadaan yang sudah berubah. Seperti contohnya pada industri makanan, para pelaku bisnis di sektor ini harus beradaptasi dan berpindah strategi baru seperti contohnya gerai-gerai makanan cepat saji maupun Restoran-restoran yang memberlakukan Drive True dan Take Away untuk menghindari aktivitas makan di tempat yang memperbesar risiko kerumunan orang.
Bahkan banyak pula aplikasi-aplikasi dan Website baru yang bermunculan mengikuti kebiasaan hidup yang baru kini. Mereka menawarkan jasa belanja online dan para pelanggan hanya tinggal duduk manis di rumah menunggu belanjaan mereka tiba. Makin hari di era pandemi, orang-orang lebih sering berbelanja secara online dibanding harus datang langsung ke tokonya. Ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti orang-orang takut berkerumun, menghemat pengeluaran di kala pandemi, atau ingin menikmati diskon-diskon yang bertebaran di dunia belanja online.
Para pelaku bisnis yang menyadari bahwa dunia dengan cepat berubah juga berlomba-lomba memperbarui strategi-strategi bisnis mereka agar menjangkau banyak pelanggan. Terutama di era pandemi, tentu mereka harus mentransformasi bisnis mereka menjadi bisnis online mengikuti keinginan pelanggan. Dalam proses transformasi ini, selain memulihkan ekonomi, mereka juga harus membangun SDM-SDM unggul yang baru.
Pandemi pada tahun 2019 dan 2020 dianggap sebagai momentum untuk mendongkrak pencapaian-pencapaian baru di berbagai bidang, termasuk pula pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagaimana yang diketahui, sumber daya manusia adalah aset paling berharga di perusahaan manapun. Pembangunan SDM di era pandemi dapat diimbangi dengan kerja keras dan rasa optimis dalam mengembangkan kualitasnya.
Pasca pandemi di peralihan tahun 2021 ke 2022, perilaku pelanggan yang sudah terbawa sejak masa pandemi masih melekat erat. Sekarang di tahun 2022, orang-orang masih suka belanja online ketimbang belanja di tempat meskipun toko itu tidak jauh dari rumahnya. Ini disebabkan karena strategi-strategi pelaku bisnis di era pandemi masih ada dan terus berkembang hingga saat ini sehingga pelanggan masih merasa nyaman menjalaninya. Strategi ini meliputi iklan-iklan online melalui berbagai sosial media, keberadaan customer relationship seperti diskon, cashback, dan giveaway, itu semua mempengaruhi perilaku pelanggan untuk tetap menjalankan perbelanjaan seperti di era pandemi.
Lalu apa yang dapat sebuah bisnis atau organisasi lakukan untuk menanggapi ini semua?
Tentu saja dengan terus melakukan perubahan pasca pandemi sekalipun. Dunia ini dinamis. Perilaku pelanggan juga begitu. Dalam mempertahankan pelanggan, tidak hanya memelihara customer relationship, organisasi harus memperbaiki kualitas internalnya terlebih dahulu. Salah satu kualitas yang dapat diperbaiki adalah sumber daya manusianya. Seperti yang sudah terjadi, perubahan pasca pandemi membawa banyak efek ke seluruh lapisan masyarakat. Orang-orang yang dianggap tak pantas dipertahankan dapat tersingkir begitu saja.
Oleh karenanya di era ini, banyak pula pelatihan-pelatihan yang dibuka untuk mempelajari lebih dalam lagi skill-skill baru yang muncul di era pasca pandemi ini. Seperti contoh skill digital marketing, UI/UX designer, web developer, Search Engine Optimization dan sebagainya. Ini juga merupakan tahap pengembangan SDM agar dapat bertahan di era yang baru.
Dalam menjalan bisnis terutama sebuah perusahaan, tentu hanya akan merekrut pegawai-pegawai yang dianggapnya kompeten. Oleh karena itu, manajemen kinerja di perusahaan pasti akan menata ulang kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan itu sendiri.
Kompetensi-kompetensi itu dapat dicapai melalui:
1. Meningkatkan inovasi dan kreativitas.
Dalam pemulihan dan penataan kembali kinerja karyawan pasca pandemi, tentu dibutuhkan pula inovasi-inovasi baru untuk menyokong perusahaan. Inovasi ini tidak hanya berasal dari bagan organisasi atas namun juga karyawan tingkat dasar dapat memberi ide inovatif mereka. Inovasi ini dibutuhkan untuk bersaing dengan pesaing pasar lain di era pasca pandemi ini. Inovasi dapat berupa saran-saran pemasaran, peningkatan kualitas produk, pembaruan-pembaruan produk, dan sebagainya.
2. Memberikan fasilitas
Perusahaan terutama manajemen kinerja pasti memantau SDM yang mereka miliki. Ada kalanya para karyawan merasa jenuh akan beban pekerjaan yang mereka miliki. Apalagi di era persaingan ketat dan pasca pandemi ini, pasti banyak isu-isu beredar yang membuat mereka semakin terbebani. Perusahaan dianjurkan untuk memberi fasilitas-fasilitas kepada para karyawannya. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan para karyawan dapat mempergunakannya dengan baik untuk meningkatkan kinerja mereka. Fasilitas dapat berupa teknologi penunjang pekerjaan atau fasilitas non-teknologi seperti bonus-bonus dan tempat-tempat multifungsi di perusahaan.
3. Memperluas jaringan kerjasama
Para SDM tentu membutuhkan relasi yang luas, bukan hanya untuk personal namun juga untuk meningkatkan nilai perusahaan. Lewat jejaring dan kerjasama, para karyawan akan mendapat ilmu dan pengembangan baru melalui jaringan itu. Berdasarkan itu, jaringan ini dapat berguna kedepannya untuk pengembangan karir para karyawan sendiri. Perusahaan juga diuntungkan lewat jaringan dan kerjasama ini karena di masa kini, kolaboratif juga menjadi nilai tambah bagi perusahaan.
4. Memberi pelatihan baru terutama di bidang softskill
Para karyawan tentu harus beradaptasi dengan kemampuan baru era pasca pandemi. Semua serba digital dan teknologi. Oleh karenanya, perusahaan harus mampu memberikan pelatihan-pelatihan kepada karyawan di bidang hard dan soft skill agar kualitas karyawan meningkat. (Redaksi).
Editor : Wesly (Asesor Sertifikasi Kompetensi Wartawan/SKW).





















