
Perdana, Kutai Kartanegara– Beritainvestigasi.com Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak adanya disalurkan sapi kurban dari PT Rea Kaltim ke Desa Perdana, pada perayaan hari Raya Idul Adha tahun ini memunculkan kekecewaan dan tanda tanya di kalangan masyarakat. Desa yang selama ini dikenal memiliki histori panjang dari awal aktifitas perusahaan tersebut justru menjadi satu-satunya desa yang disebut tidak menerima hewan kurban sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. 27/5/2026
Warga menilai bahwa persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan agenda yang bersifat sosial semata, melainkan juga menyangkut penghormatan terhadap nilai-nilai kebersamaan, adat istiadat, dan budaya masyarakat lokal yang selama ini telah lama hidup berdampingan antara masyarakat dengan perusahaan.
Salah seorang warga Desa Perdana RS( nama inisial), mengaku jika dirinya selaku masyarakat desa tersebut merasa memiliki ikatan historis dengan keberadaan perusahaan. Terlebih kantor operasional perusahaan PT Rea Kaltim berdomisili di wilayah desa. Tak hanya itu, kawasan di belakang kampung juga dikenal sebagai lokasi awal persemaian bibit (nursery) yang menjadi bagian dari perjalanan awal perusahaan di daerah tersebut.
“Desa kami Perdana bukan desa yang baru mengenal perusahaan. Sejarah awal pengembangan perusahaan juga ada di wilayah kami. Karena itu kami masyarakat merasa wajar jika mempertanyakan mengapa tahun ini desa kami tidak mendapatkan bantuan sapi kurban seperti biasanya,” ujarnya
HR (nama inisial), seorang warga lainnya juga turut menambahkan jika mereka masyarakat Kutai maupun masyarakat adat lainnya yang tinggal berdampingan di wilayah tersebut sangat menjunjung tinggi nilai saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian sosial. Dalam budaya lokal, hubungan baik antara pendatang, pelaku usaha, dan masyarakat setempat merupakan bagian penting yang harus dijaga bersama.
” Disni, bagi kami adat dan budaya Kutai, hubungan baik dengan masyarakat bukan hanya diukur dari kegiatan usaha, tetapi juga dari penghormatan terhadap nilai sosial, budaya, dan kebersamaan. Karena itu masyarakat berharap perusahaan tetap menunjukkan kepedulian kepada warga tanpa memandang adanya perbedaan pendapat, dalam hal ini yang kami yakini tak lepas dari keterkaitannya terkait persoalan plasma,” katanya.
Warga juga mengaitkan situasi ini memiliki keterkaitan dengan masih bergulirnya tuntutan penyelesaian plasma yang selama ini diperjuangkan masyarakat. Namun mereka menegaskan bahwa perjuangan tersebut merupakan aspirasi yang disampaikan secara terbuka dan tidak seharusnya memengaruhi hubungan sosial antara perusahaan dan masyarakat.
” Beberapa tokoh masyarakat juga telah mengingatkan bahwa dalam tradisi adat setempat, setiap pihak yang hidup dan berusaha di suatu wilayah memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan masyarakat. Apabila terjadi kesalahpahaman atau kekecewaan yang berlarut-larut, penyelesaiannya lazim dilakukan melalui musyawarah dan dialog dengan melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan para pihak terkait,” tambahnya
Hingga berita ini dipublis, belum ada keterangan resmi dari PT Rea Kaltim terkait alasan tidak disalurkannya bantuan sapi kurban ke Desa Perdana pada tahun ini, meski pesan konfirmasi kepada, Dian (Komdev) yang diketahui selaku pihak Humas PT Rea Kaltim telah dilayangkan.
Masyarakat berharap perusahaan dapat memberikan penjelasan terbuka guna menghindari munculnya berbagai spekulasi serta menjaga hubungan baik yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
“Kami berharap ada penjelasan dari Managemen Perusahaan atas hal ini, ini sangat penting agar tidak semakin memperkeruh paradigma masyarakat terhadap PT Rea Kaltim, perlu digaris bawahi bahwa kami tidak sedang mempermasalahkan nilai seekor sapi, melainkan nilai penghargaan terhadap kearifan lokal, sejarah hubungan yang telah terbangun, serta nilai-nilai adat dan budaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan diwilayah ini” tutup HR mengingatkan. (Tim Kaltim)












