Pontianak,Kalbar – Beritainvestigasi.com. Video viral yang memperlihatkan dugaan pemindahan BBM dari mobil tangki ke kendaraan lain di wilayah Kalimantan Barat memicu kegaduhan publik dan sorotan tajam terhadap sistem pengawasan distribusi BBM subsidi.
Dalam video yang beredar luas di media sosial itu, terlihat sebuah mobil tangki diduga melakukan aktivitas pemindahan BBM di luar prosedur resmi. Peristiwa tersebut memunculkan dugaan praktik penyimpangan distribusi BBM subsidi atau yang kerap disebut masyarakat sebagai praktik “kencing BBM”.
Menanggapi viralnya video tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan memastikan telah melakukan investigasi bersama pihak terkait guna menelusuri dugaan pelanggaran tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk penyimpangan dalam distribusi BBM subsidi.
“Apabila terbukti terdapat pelanggaran, awak mobil tangki (AMT) yang terlibat akan dikenakan sanksi tegas berupa pemutusan hubungan kerja sesuai ketentuan perusahaan. Selain itu, sanksi administratif juga akan diberikan kepada perusahaan transportir yang menaungi kendaraan tersebut,” tegas Edi, Senin (15/5/2026).
Ia menambahkan, Pertamina juga telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum guna mendukung proses penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti terlibat.
“Kami memastikan setiap dugaan penyimpangan diproses secara serius. Distribusi BBM merupakan layanan publik yang harus berjalan sesuai prosedur, tepat sasaran, dan sesuai peruntukannya,” ujarnya.
Meski demikian, kasus viral ini kembali memunculkan kritik terhadap lemahnya pengawasan distribusi BBM di Kalimantan Barat.
Sorotan Lemahnya Pengawasan
Pengamat hukum dan kebijakan publik, Dr Herman Hofi Munawar, menilai persoalan penyimpangan BBM di Kalbar tidak akan pernah selesai jika penanganannya hanya bersifat reaktif setiap kali kasus viral muncul ke publik.
Menurut Herman, Pertamina sebenarnya memiliki perangkat pengawasan digital yang memadai, termasuk GPS pada armada mobil tangki. Karena itu, ia mempertanyakan mengapa praktik penyimpangan masih terus terjadi.
“Kalau masih terjadi praktik ‘kencing BBM’, berarti ada masalah serius dalam monitoring real-time atau bahkan dugaan pembiaran. Semua armada itu terdata dan bisa dipantau pergerakannya,” tegasnya.
Ia menyebut langkah investigasi yang baru dilakukan setelah video viral menunjukkan lemahnya sistem mitigasi internal dalam tata niaga distribusi energi.
“Manajemen yang baik seharusnya bisa mendeteksi deviasi rute atau aktivitas mencurigakan sebelum masyarakat memergokinya. Jangan selalu bergerak setelah viral,” katanya.
Herman juga menyoroti lemahnya integritas internal, pengawasan vendor transportasi, hingga penegakan hukum yang dinilai belum maksimal.
“Ketika pengawasan longgar, ruang koruptif langsung terbuka. Ini bukan sekadar kenakalan oknum, tetapi menunjukkan adanya kelemahan serius dalam sistem pengawasan distribusi energi,” ujarnya.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan dan distribusi BBM di wilayah Kalimantan Barat tetap berjalan normal. Pengawasan distribusi disebut terus diperkuat melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta implementasi Program Subsidi Tepat berbasis QR Code.
Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk ikut mengawasi distribusi BBM subsidi dan melaporkan dugaan pelanggaran melalui saluran resmi.(Vr/Tim)














