oleh

Warga Keluhkan Limbah PETI, Bos Dompeng (Dongfeng) Diamankan Polres Singkawang

Kasatreskrim Polres Singkawang, AKP David Dino Sipahutar, S.H, Menunjukkan Alat Bukti Saat Konfrensi Pers.

Singkawang, Kalbar- Beritaivestigasi.com. Jajaran Satreskrim Polres Kota Singkawang berhasil amankan dua terduga pelaku tindak pidana Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Kedua pelaku berinisial SA dan DN diamankan lantaran terbukti telah melakukan PETI di wilayah hukum Polres Singkawang.

Kapolres Singkawang, AKBP Prasetiyo Adhi Wibowo, S.I.K, M,H melalui Kasatreskrim Polres Singkawang, AKP David Dino Sipahutar, S.H, menerangkan, penangkapan SA dan DN berawal dari keluhan warga akibat dampak lingkungan dari aktivitas PETI tersebut.

” Ada keluhan masyarakat sekitar yang merasakan dampak lingkungan, terutama pada ketersediaan air bersih sudah tidak bersih lagi, hal itu menjadi polemik,” terang AKP David saat di konfirmasi melalui sambungan WhatsApp Selasa (31/08/2021).

Lanjut David membeberkan, bahwa masyarakat sekitar yang merasa dirugikan dengan aktivitas tersebut kemudian melaporkannya ke Polsek Singkawang Timur, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Satreskrim Polres Singkawang.

Mendapat laporan tersebut, Anggota Satreskrim Polresta Singkawang kemudian langsung menuju ke lokasi tepatnya di Jalan Semanok Gang Semanok, Kelurahan Sanggau Kulor, Kecamatan Singkawang Timur dan melakukan tindakan kepada para pelaku. Salah satunya adalah koordinator dan pemilik alat, pada Rabu (04/08/2021) lalu.

” Dari dua orang yang diamankan, SA diduga sebaga koordinator PETI yang merekrut beberapa warga untuk dijadikan sebagai karyawannya. Tersangka juga menyiapkan beberapa mesin Dongfeng dengan tujuan untuk membuka lahan PETI di lokasi penangkapan,” bebernya.

Satu orang lainnya yang berinisial DN diamankan kepolisian lantaran kedapatan menyimpan sabu saat tengah melakukan aktivitas PETI tersebut. DN kemudian diserahkan ke Satres Narkoba untuk ditindaklanjuti.

” Untuk kasusnya DN sudah kita serahkan ke Satresnarkoba Polres Singkawang untuk ditindak lebih lanjut,” ungkapnya.

Menurut Kasat Reskrim dari pengakuan tersangka, aktivitas PETI yang dilakukan di lokasi tersebut baru beroperasi kurang lebih tiga bulan.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku SA terancam melanggar Pasal 158 UU Nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

” Dengan ancaman paling lama 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 Milyar,” pungkasnya.  (Vr).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed