Harmoni di Bumi Kayong: Cap Go Meh Ketapang Jadi Simbol Nyata Toleransi Antarumat

Ketapang, KalbarBeritainvestigasi.com (04 Maret 2026) Semangat toleransi di Ketapang kembali terpancar dalam perayaan Cap Go Meh yang berlangsung meriah dan penuh kebersamaan. Arak-arakan Barongsai dan Naga yang memukau ribuan warga menjadi bukti nyata harmoni antar suku dan agama di wilayah yang dikenal sebagai Bumi Kayong tersebut.

Dentuman tambur dan gemerincing simbal menggema di sepanjang rute perayaan, mengiringi liukan naga yang lincah dan atraktif. Ribuan masyarakat tumpah ruah menyaksikan kemeriahan tradisi tahunan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kalender budaya daerah.

Tak hanya warga keturunan Tionghoa, perayaan Cap Go Meh di Ketapang juga diramaikan masyarakat dari beragam latar belakang. Warga Melayu, Dayak, Jawa, Madura, dan berbagai suku lainnya tampak antusias menyatu dalam suasana penuh kegembiraan.

Menariknya, para pemain Barongsai dan Naga tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa. Sejumlah pemuda lintas suku terlibat aktif sebagai bagian dari tim pertunjukan. Mereka berlatih bersama, bergerak seirama, dan menampilkan kekompakan yang menjadi simbol kuat bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan pemersatu.

Selain atraksi Barongsai dan Naga, penampilan Tatung turut menjadi magnet perhatian. Dengan penuh keberanian dan kekhusyukan, para Tatung menampilkan atraksi yang sarat nilai spiritual dan tradisi. Aksi tersebut disambut tepuk tangan meriah dari masyarakat yang memadati lokasi acara.

Perayaan tahun ini juga dihadiri langsung oleh Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kehadiran jajaran pemerintah daerah menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung pelestarian budaya sekaligus memperkuat nilai toleransi di tengah keberagaman masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Alexander Wilyo menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan sebagai fondasi pembangunan daerah.

“Ketapang adalah rumah kita bersama, mari kita rawat dan kita jaga bersama-sama untuk Ketapang yang hebat, lebih maju, dan berkeadilan,” ujarnya.

Sinergi antar suku di Ketapang juga diperkuat oleh peran lembaga adat dan tokoh masyarakat yang konsisten merawat nilai persaudaraan. Setiap perayaan budaya berlangsung dalam suasana damai, saling menghormati, dan menjunjung tinggi semangat persatuan.

Perayaan Cap Go Meh di Ketapang bukan sekadar agenda budaya, melainkan cerminan nyata toleransi dalam keberagaman. Dari dentuman tambur hingga liukan naga, dari atraksi Tatung hingga kebersamaan warga di sepanjang jalan, semuanya menjadi gambaran bahwa Ketapang berdiri kokoh karena persatuan, gotong royong, dan semangat kebhinekaan masyarakatnya.

Verry


Catatan : Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dengan menggunakan Hak Jawab sebagaimana diatur dalam UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *