Jejak Wartawan “Pejuang” Pembentukan Kepri yang Nyaris Terlupakan

Tanjungpinang, Kepri- Beritainvestigasi.com Di balik perjuangan panjang lahirnya Provinsi Kepulauan Riau, terdapat peran para wartawan yang selama ini nyaris luput dari catatan sejarah. Mereka bukan berada di garis depan dengan senjata atau mimbar politik, melainkan melalui tulisan dan pemberitaan yang konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat Kepri.

Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri, Ady Indra Pawennari, mengungkapkan hal itu saat mengenang kembali perjalanan para wartawan dalam masa perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.(16/5/2026)

Kenangan tersebut muncul setelah Ady menerima pesan WhatsApp dari Sekretaris Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR), Sudirman Almoen, pada Selasa, 21 April 2026. Dalam pesan itu, Ady diundang untuk wawancara penulisan buku sejarah pembentukan Provinsi Kepri dan disebut sebagai salah satu “pejuang” pembentukan Kepri.

“Saya sempat terdiam beberapa menit. Mata saya berkali-kali tertuju pada kata ‘pejuang’ yang disematkan di belakang nama saya,” ujar Ady.

Menurutnya, sebutan tersebut menghadirkan rasa haru sekaligus renungan panjang, sebab pengakuan terhadap peran wartawan dalam perjuangan pembentukan Kepri baru terasa kembali setelah lebih dari dua dekade provinsi ini berdiri.

Ady kemudian menghubungi sejumlah wartawan yang dahulu aktif memberitakan perjuangan Kepri, seperti Sigit Rachmat, Amril, hingga seniornya Ridarman Bay. Mereka ternyata juga menerima undangan serupa.

Namun, Ady tidak dapat menghadiri kegiatan tersebut karena harus mengikuti pertemuan bisnis dengan investor asal China dan Singapura di Batam.

Dalam keterangannya, Ady juga menilai ada dua wartawan yang sangat layak dikenang sebagai bagian penting perjuangan pembentukan Kepri, yakni Ahmad S Udi dan Surya Makmur Nasution.

“Jika boleh mengusulkan, ada dua nama wartawan lain yang menurut saya lebih layak disebut sebagai pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau,” kata Ady.

Ia mengenang peran Ahmad S Udi saat Musyawarah Besar (Mubes) Rakyat Kepri di Hotel Royal Tanjungpinang, 15 Mei 1999. Kala itu, Ahmad S Udi aktif memberitakan jalannya perjuangan masyarakat Kepri melalui Mandiri Online.

“Hari itu, saya menjadi saksi bagaimana Ahmad S Udi menulis berita-beritanya di rumah saya di Jalan Sumatera Nomor 5, Tanjungpinang. Dalam sehari, ada delapan berita tentang Mubes Rakyat Kepri yang tayang di Mandiri Online,” ungkapnya.

Menurut Ady, pada masa itu belum ada media online di Kepri. Media cetak lokal yang bisa dibaca masyarakat keesokan harinya hanya Sijori Pos.

Selain Ahmad S Udi, nama Surya Makmur Nasution dari Harian Kompas juga disebut konsisten mengangkat dinamika perjuangan pembentukan Kepri ke tingkat nasional.

“Saya mengetahui hal itu karena hampir setiap kegiatan perjuangan pembentukan Kepri di Tanjungpinang, proses produksi berita media nasional banyak dilakukan di kantor saya, bintanpos.com,” jelas Ady.

Ia menuturkan, saat itu bintanpos.com menjadi salah satu media dengan fasilitas komputer dan jaringan internet yang cukup lengkap, sehingga kerap digunakan wartawan luar daerah untuk menulis dan mengirim berita ke kantor pusat mereka.

“Tidak jarang, berita-berita tentang perjuangan pembentukan Kepri dikutip media nasional maupun lokal dari bintanpos.com,” ujarnya lagi.

Ady juga mengenang perjuangan tim redaksi bintanpos.com yang saat itu berada di garis depan pemberitaan pembentukan Kepri bersama redaktur pelaksana Dahri Maulana dan sejumlah wartawan muda lainnya.

Kini, lebih dari dua dekade setelah Kepri resmi berdiri sebagai provinsi, jejak para wartawan yang dahulu ikut memperjuangkan lahirnya daerah ini mulai kembali dikenang.

“Mereka pernah berada di garis depan — bukan dengan senjata, melainkan dengan tulisan,” tutup Ady.

(A.Ridwan)


Catatan : Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dengan menggunakan Hak Jawab sebagaimana diatur dalam UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *