Ketapang, Kalbar — Beritainveatigasi.com// Musibah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang mengepung Kabupaten Ketapang tak hanya membakar ribuan hektar lahan, tetapi juga membakar atmosfer politik daerah. Di tengah kepulan asap tebal, muncul framing media dan framing opini publik yang terkesan menyudutkan Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir.
Narasi yang dibangun di media massa maupun media sosial seolah menggambarkan kontras tajam: Bupati Alexander Wilyo digambarkan begitu aktif berjibaku di tengah kepungan asap bersama warga, sementara sang Wakil Bupati dituding “hilang” dan tak peduli pada penderitaan rakyat.
Namun, fakta di lapangan justru membalikkan persepsi tersebut. Dugaan kuat mengarah pada adanya permainan opini dari oknum-oknum yang berkepentingan untuk memecah fokus kepemimpinan daerah di tengah situasi darurat.
Aksi Nyata Tanpa Sorot Kamera
Jamhuri Amir tidak sedang duduk nyaman di balik meja ber-AC. Tanpa protokol resmi, tanpa pengawalan ketat, dan tanpa iring-iringan kamera media, Jamhuri diam-diam telah menembus garis depan pertempuran melawan api.
“Sudah 4 hari 4 malam saya berada di sini, tidak pulang, tidak berhenti. Saya bergerak bersama rombongan warga… Kami bergerak sederhana, tanpa membawa protokol kepemimpinan yang rumit,” tegas Jamhuri Amir dikutip dari bicarafakta.net.
Jamhuri memimpin penanganan langsung di titik-titik api paling parah dan terisolasi—membentang dari Desa Sei Putri, Desa Tanjung Baik Budi, hingga Desa Kuala Tolak. Bersama tim BPBD dan masyarakat lokal, ia berjibaku dengan peralatan seadanya demi menahan laju api agar tidak menembus hutan lindung dan pemukiman warga.
Absennya liputan media di lokasi tempat Jamhuri berjuang murni disebabkan oleh kendala geografis: titik api berada di dalam kawasan hutan lebat dengan akses jalan yang ekstrem dan blank spot sinyal komunikasi.
Pembagian Tugas Baku, Bukan Pencitraan
Tuduhan bahwa Wakil Bupati mengabaikan tugas juga membentur fakta adanya komitmen dan pembagian peran yang terstruktur antara Bupati Alexander Wilyo dan Wakil Bupati Jamhuri Amir.
Bupati Alexander Wilyo: Mengendalikan komando penanganan, kebijakan darurat, koordinasi logistik lintas sektoral, hubungan tingkat provinsi/pusat, serta turun ke titik strategis.
Wakil Bupati Jamhuri Amir: Bergerak taktis di garis depan, memimpin penanggulangan lapangan di zona-zona terisolasi dan terberat.
Upaya membenturkan aksi kedua pimpinan daerah ini mengindikasikan adanya agenda politik keruh yang memanfaatkan musibah. Di saat kedua pimpinan membagi tugas secara cermat demi keselamatan warga Ketapang, ada pihak yang sengaja memanfaatkan ketiadaan publikasi Jamhuri untuk membingkai opini menyesatkan.
Klarifikasi ini menjadi tamparan keras bagi pihak-pihak yang mencoba memancing di air keruh. Bencana Karhutla membutuhkan penanganan nyata di lapangan, bukan ajang goreng-menggoreng opini yang mengorbankan kerja keras mereka yang bertarung langsung melawan kobaran api.(Verry)















