
Budi Gautama Ketua Awi Kalbar
Pontianak, Kalbar – Beritainvestigasi.com. Praktek Ilegal yang semakin marak seperti Pertambangan Emas Tanpa Izin(PETI) dan Rokok Ilegal semakin menggila seakan bebas tanpa aturan yang mengikat di hampir semua Kabupaten Kota se-Kalimantan Barat.
Bahkan belakangan muncul isu murahan yang menyudutkan para penulis dari kalangan jurnali/wartawan yang kesan nya untuk mengbungkam para penggiat yang membuka informasi publik, bahkan berbagai bentuk intimidasi terhadap wartawan, saat melakukan liputan juga menjadi catatan hitam, dengan tujuan untuk menghalau informasi yang menyajikan data dan fakta dilapangan.
Perihal tersebut menjadi sorotan publik, dan Bos AWI(Aliansi Wartawan Indonesia) Kota Pontianak pun angkat bicara. Dia menduga ada dua kubu besar (AS dan SB) yang menjadi tokoh sentral dalam bisnis PETI di Kalbar, sebagai pengendali yang dianggap bertanggungjawab terhadap peredaran Emas dan kerusakan lingkungan di Kalbar.
” Terlepas itu punya AS atau SB, yang pasti tambang emas liar sangat menghancurkan lingkungan, merusak tatanan kehidupan, merugikan negara dan tidak menguntungkan bagi PAD, ” ujar Budi Gautama, Ketua Aliansi Wartawan Indonesia ( AWI) Kota Pontianak. Minggu(21/06/2015).
Beberapa waktu lalu Polresta Pontianak pada 3 Mei 2025 sempat mengamankan 47 barang emas dan telah ditetapkan 4 orang sebagai tersangka, dan kasusnya saat ini sedang ditangani Polresta.
Menurut Budi, peristiwa penangkapan 47 batang emas didasari oleh perang terbuka antara dua tauke tersohor. Mereka, sebelum penggrebekan, lewat jaringan masing – masing, saling buka kartu dan bongkar informasi, terkait titik – titik PETI maupun lokasi penyimpanan emas curian. Setelah itu, menjadi target.
” Perang terbuka ini memperebutkan Kursi Raja Emas ilegal Dapil Kalbar. Pemenangnya tergantung dukungan kekuatan becking yang monitor dibelakang layar. Jadi siapapun pemilik PETI yang pilih jual kelain, bisa dipastikan bakal remuk total, ” papar Budi, senior organisasi profesi yang sudah puas makan asam garam di dunia jurnalistik.
Selain PETI, perihal Rokok Ilegal tak lepas dari sorotan AWI, dimana banyak ditemui rokok yang tanpa dilengkapi pita cukai resmi Pemerintah, beredar di pasar.
” Masuknya barang-barang liar tersebut, disamping menghindari pajak pendapan Negara yang nilainya miliaran rupiah juga mencerminkan gagalnya pihak APH dalam menghadang lajunya peredaran rokok gelap tersebut, ” Cetusnya.
Mantan wartawan media cetak yang sejak tahun 2000 sudah berkiprah, secara tegas meminta agar APH proaktif melihat perkembangan kejadian sekarang.
“Saya berharap aparat tidak diam dengan kondisi terkini yang sudah menjadi perbincangan publik, mengingat semua praktek penyeludupan, beban dan sakitnya ditanggung oleh masyarakat, ” ungkap Budi.
Budi juga mengatakan Lembaganya akan kordinasi dengan Kapolri maupun Kejagung lewat audiensi AWI Pusat, ngebahas permasalahan yang rutin muncul di Kalimantan Barat.
Terhadap teman – teman penulis, tidak bermaksud menggurui, Budi menghimbau untuk segera merapatkan barisan dan kompak melawan bentuk intimidasi yang menghalang – halangi tugas jurnalis, tidak mudah diadu domba, saling kerja sama serta rutin kordinasi dengan sesama kuli tinta maupun pihak keamanan.
“Ayo kita dapatkan barisan jangan mudah dipecah belah dan diadu domba, mari kita bersama-sama melawan setiap bentuk intimidasi terhadap jurnalis, ” tutupnya.
JOn/Team.
Sumber: AWI Pontianak.
















