Kisah Indah Dua Bocah Penyamun.

Kepri790 Dilihat

Kepri,binfo  maret 2018.

Usia kanak kanak adalah usia yang memang wajib duduk di bangku sekolah, baik itu Paud SD SMP dan SMA/SMK bukan usia di dunia kerja.
Namun tidak semua anak anak menerima kenyataan hidup yang di inginkan, kedua orang tua maunya keturunan mereka akan menjadi penerus keluarga yang sakinah itu semua harapan yang turun temurun hingga sekarang ini.
Hal inilah yang di kisahkan oleh R, yang berdomisili di jalan Sultan Mahmud Tanjungpinang pada media ini ia kisahkan tepatnya di malam jumaat tengah malam 16/3.
Pertamanya si R dan F pelaku aksi penyamun bocah ini masih menepuh pendidikan di salah satu SD,dan karena tabiat tidak benar makanya kedua bocah ini berhenti dari sekolah karena menyamun.
Menurut pengakuan R, bahwa yang ngajak menyamun itu adalah F sebagai aksi nya sedangkan R hanya bertugas duduk duduk saja macam biasa seeolah olah tidk ada kejdian yang berlaku dan hampir setengah jam lamanya F pun datang dengan membawa beberapa pecahan kertas rupiah dengan bagi rata sama walaupun F yang beraksi sendiri.
Memang si F memiliki keahlian yang luar biasa soal menyamun entah menuntut ilmu dimana saya pun tak tau ungkap R kepada media ini dengan tanpa kebohongan.
Hampir setahun R ikut aksi nyamun di berbagai tempat dari umur saya 10 tahun ketika itu, sekarang usia saya sudah 17 tahun ungkap R.
Pernah kami menyamun di salah satu rumah orang cina yang memiliki usaha kedai kupi dan makan, dengan pantasnya F memanjat ruko tersebut lewat paralon besar yang ada nempel di dinding dengan cekatan F dapat masuk ke kamar karena tingkap nya tidak tertutup rapat.
Malam itu F berhasil mengambil rupiah 13 juta bersama hp, selepas itu kami berdua pun mengopi dan memesan makanan di kedai yang di samun F karena perut lapar ungkap R dengan senyum ramahnya.
Karena tabiat F sangat baik dan tak lupa sedekah kepada siapa saja,maka malam itu juga duit hasil nyamun habes ludes.
Namun si R punya pemikiran yang jitu, duit hail nyamun di simpannya kepada teman untuk di tabung dan sampai usia saya 14 tahun duit tersebut saya ambek lagi ya lumayanlah jumlahnya namun tetap abes juga di tarek dan di gunakan keperluan sehari hari ujar R dengan polos.
Dan dalam melakukan aksi nyamun selama setahun kalau di kumpul dapatlah nak membeli rumah, namun pada saat itu kami masih kecil dan ada rasa takut sama orang tua maka ketakutan juga kalau duit tersebut di kasikan ke orang tua tutur R lagi.
Terakhir F menyamun di kampungnya sendiri dan berhasil masuk ke dalam kedai milik ABN, juga berhasil megambil duit dalam laci namun abes ludes semua orang terdekat dan kerabatnya merasakan duit tersebut sehingga untuk diri F sendiri pun dah tak pegang duit lgi.
Istilah kasar duit hasil nyamun itu diberikan kepada kawan dekat kerabat dan disedekah atau infak ke masjid dan musalla.
Sejak aksi di kampong sendiri itulah antara F dan R sudah putus hubungan tidak lagi bersama sama hingga sekarang, dan ketika di Tanya apakah sekarang R mau menyamun?
Dengan berani R berikan jawaban “ tak beranilah soalnya saya hanya ikut dan bukan pelakunya “ itu akui oleh R.
Ilmu menyamunnya yang ada pada diri F bukan tuntutan melainkan ada keturunan yang melekat pada dirinya dan bahkan F pernah ketangkap dan di pelasah oleh masyarakat karena masih di bawah umur makanya masyarakat kasian melihat dirinya dan keluarga si F.
Setelah beraksi hanya setahun saja, maka F ilang jejak entah balek kampong atau di sekolah oleh orang tuanya iu pun tak tau kemana rekam jejaknya semoga saja F masih ada tutup R mengakhiri kisah samun menyamun ketika masih di usia sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *