TACB KKU Dukung Wacana Penggantian Nama Kabupaten Kayong Utara, Ini Landasannya

Kayong Utara1441 Dilihat

Catatan sejarah berdirinya Kabupaten Kayong Utara, foto oleh Tim TACB

Kayong Utara, Kalbar- Beritainvestigasi.com Tim Ahli Cagar Budaya(TACB) sambut baik dan mendukung Wacana pergantian nama Kabupaten Kayong Utara yang dininisiasi oleh panitia pemekaran bersama DPRD Kayong Utara.

Hal tersebut diungkapkan Miftahul Huda salah seorang dari Tim TACB Kabupaten Kayong Utara saat bincang-bincang ringan dengan Tim Redaksi Beritainvestigasi.com  Kamis(27/06/2024) malam.

Huda menuturkan, sekitar dua minggu lalu Tim Ahli Cagar Budaya bertemu dengan Sarnawi, S.H Ketua DPRD Kayong Utara membahas mengenai wacana perubahan nama Kabupaten Kayong Utara.

Menurut Sarnawi selaku ketua DPRD mengaku bahwa awalnya ia bersama beberapa anggota DPRD saat bertemu tokoh nasional Oso (Usman Sapta Odang), sempat membahas wacana perubahan nama Kabupaten Kayong Utara.

“Dalam pembicaraan tersebut intinya pak Oso menyarankan kepada DPRD agar meninjau ulang penamaan Kabupaten Kayong Utara, kajiaanya seperti apa dan maknanya apa ?, kalau nama Tanjungpura jadi Kabupaten bagaimana?, coba dikaji benar ndak Tanjungpura pernah ada di Sukadana kata pak oso, ” ujar Huda menirukan perkataan Sarnawi.

Lanjut Huda, mengenai isue perubahan nama ini, Tim Ahli Cagar Budaya Kayong Utara sangat menyambut baik dan mendukung.

“Dan tentunya harapan kami nama yang akan diajukan tentu harus memiliki kajian yang matang terutama dari sisi kesejarahan, ” kata pria yang beberapa kali menyabet penghargaan sebagai produser film itu.

Huda berpendapat, bahwa sebuah nama sangat berpengaruh pada sebuah daerah, terutama dalam pembentukan citra dan jati diri. “Hari ini kita banyak tidak memahami nama “Kayong”, yang dijadikan sebuah nama Kabupaten yang baru 17 tahun berdiri ini, “ujarnya.

Asal-Muasal Nama Kayong Utara

Di nukil dari buku Sejarah tanah kayong yang terbit tahun 2023 oleh Tim Ahli cagar Budaya Kayong Utara. Dijelaskan bahwa “Tanah Kayong” atau “Bumi Kayong”, saat ini identik dengan nama Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Nama Kayong berasal dari nama sungai yang berada di batang Sungai Tayap. Saat ini masuk di wilayah Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten ketapang. Di sekitar aliran sungai ini, sejak dulu terdapat sungai bernama “Sungai Kayong”, atau ada yang menyebutnya “Sungai Kayong”.

Di sekitar Sungai Kayong, dihuni sub suku Dayak bernama Dayak Kayonk (Kayong), dan suku Melayu. Arti kata “kayong”, berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “kayon”, yang bermakna kekayuan atau kayu. Kata “kayon” berubah menjadi “Kayong” manakala lidah masyarakat setempat khsusnya, yang berdiam di perhuluan lazim memberikan penekanan pada huruf-huruf akhiran tertentu. Salah satunya “n” dengan tambahan seakan-akan terdapat bunyi huruf “n” dan “k“. Sehingga melekat di bagian ujung kata tersebut, dari kata “kayon” menjadi “kayonk”.

Karena proses waktu dan budaya, kata “kayon” dilafalkan menjadi “kayonk”. Lama-kelamaan kata “kayonk” berubah menjadi “kayong” hingga sekarang. Kata ini menjadi lebih lazim didengar. Serta lebih mudah diucapkan oleh masyakarat pada umumnya, dengan sebutan “Kayong”, tanpa bunyi melekat/pantulan pada bagian akhirnya.

Di dalam keseharian masyarakat Melayu, Melayu Ketapang dan Kayong Utara, sering kita jumpai terdapat perbedaan dialog antar mereka. Jika kita dengarkan secara seksama, terdapat tekanan pada akhiran kata-kata tertentu. Misal, jika Melayu pesisir menyebut “pinggan”, maka Melayu di perhuluan menyebutnya “pinggant“. Jika Melayu pesisir menyebut “simpang”, maka Melayu di perhuluan menyebutnya “simpank“. Banyak sekali perbedaan lainnya.

Berdasarkan dari pemaparan diatas nama “Kayong” tidak ada dalam wilayah Kabupaten Kayong Utara saat ini. Maka jika wacana perubahan ini bergulir ada beberapa opsi nama yang bisa menjadi landasan kuat untuk mengganti Nama Kabupaten Kayong Utara yakni nama nama kerajaan yang pernah wujud di wilayah administratif Kabupaten Kayong Utara.

1. Kerajaan Tanjungpura 

Kerajaan Tanjungpura pernah beribukota di Sukadana sejak rajanya Prabujaya yang bertahta pada tahun 1464 – 1472. Prabujaya sebelumnya memindahkan ibu kota dari benua lama (negeri baru/ ketapang) ke Sukadana. Kerajaan Tanjungpura era sukadana maju pesat hingga menurunkan 11 generasi raja, dari mulai Prabu Jaya, Baparung, Karang Tanjung Sang Ratu agung, Panembahan Bandala, Pangeran anom, Paenembahan Air Mala,Panembahan Baroh, Panembahan Sorgi, Ratu Mas Jaintan dan Penembahan Giri Mustika di tahun 1677 M.

Bukti Arkeologi dimasa Kerajaan Tanjungpura Era Sukadana adalah: Komplek Makam Tok Mangku, Makam Panembahan Ayer Mala, Komplek Makam Kermata Gunung Lalang, Makam Pulau Datok dan lain lain. Dimana pada makam makam tersebut mencirikan ketuaan dan kekhasan yang mewakili masa dan gaya di abad ke 15 – 16.

Catatan/Manuskrip tentang Sukadana dimasa Tanjungpura yang Masyhur diantaranya adalah: Negara Kertagama Kitab Raja Raja Melayu Dan Bugis, serta Catatan Eropa dan peta sezaman.

2. Kesultanan Matan Tua

Selanjutnya setelah Panembahan Giri Mustika yang mangkat pada tahun 1677 pusat ibu kota berpindah dari Sukadana ke Matan, (saat ini bernama Desa Matan jaya Kecamatan Simpang Hilir) yang kemudian disebut sebagai Kesultanan Matan. Raja yang memerintah di Kesultanan Matan hingga 4 generasi yaitu : Pangeran Jaga Dilaga, Sultan Zainuddin, Pangeran Ratu Dan Pangeran Mangkurat.

Bukti Arkeologi dimasa Kesultanan Matan adalah : Situs kolam laut ketinggalan, Makam Sultan Matan dan Sayyid Kubra, Makam Keramat Sekusor, Umpak bekas tiang seri Keraton, Makam Type Aceh Abad 17, Makam Berbahan Batu Karang di Matan, Makam Type Melayu (Singapura/tumasik) abad 17 dan lain lain.

3. Kerajaan Simpang Matan

Pada tahun 1744 Pangeran Ratu Agung yang merupakan cucu dari Sultan Muhammad Zainuddin (Matan) lahir. Kelak ia mendirikan Kerajaan Simpang Matan yang pusat kekuasaanya berada di percabangan Sungai Matan dan Lubuk Batu. Hari ini lazim disebut Simpang Keramat. Pada tahun 1912 Pusat Ibu Kota Kerajaan Simpang Matan berpindah Ke teluk Melano yang dipimpin Panembahan Gusti Roem.

Bukti Arkeologi dan peninggalan dimasa Kerajaan Simpang Matan adalah : Situs Simpang Keramat, bekas masjid, bekas tiang keraton, meriam Bujang Koreng, Makam Bunga di sepuncak, Makam Swapra Simpang, cap kerajaan, payung, keris, catatan/manuskrip, dan lain lain.

4. Kerajaan Sukadana Baru Nieuw Brussel 

Pada Tahun 1827, Tengku Akil dari Kerajaan Siak menjadi raja Sukadana dengan Gelar Sultan Abdul Jalil Syah. Sukadana Baru atau Nieuw Brussel adalah nama yang dipakai pada masa Pemerintahannya. Adiknya bernama Tengku Djakfar juga mendirikan Kerajaan di Karimata pada Tahun 1833.

Bukti Arkeologi dan peninggalan dimasa Kerajaan Nieuw Brussel atau Sukadana Baru adalah: Komplek Makam Tengku akil, Komplek Makam Tengku Abdul Hamid, bekas rumah wakil penambahan, Eks Tangsi Militer Belanda, bekas gudang garam, bekas benteng di pulau datok, SDN 01 Sukadana, dan lain lain.

Beradsarkan linimasa perjalan sejarah diatas, nama Tanjungpura bisa dipakai sebagai salah satu opsi kuat untuk nama pengganti dari Kabupaten Kayong Utara menjadi nama Kabupaten Tanjungpura. Sebab dari sisi sejarah dan bukti arkeologi dilapangan cukup kuat sehingga dapat dipertanggung jawabkan.

Selain itu di banyak Kabupaten nama mereka diambil dari nama kerajaan, seperti Sintang, Mempawah, Sambas, Pontianak, Landak, Sanggau, dan lain lain itu diambil dari nama kerajaan yang pernah berdiri disana.

Verry/Red

Sumber: Tim TACB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Sebaiknya dganti saja dengan nama yg sudah familiar di msarakat asli dan skitar,,mnurutku nama yg pas adalah “kabupaten Sukadana” nama ini udh sangat jelas familiar dan otentik dg latar belakang historisnya,,kalaupun dgnti dg nama “kabupaten tanjung pura” nnti mnurutku kurang familiar krna “tanjung pura” sangat identik dg “daerah kabupaten Ketapang” krna jls “tanjung pura/e” itu daerah khas yg bukti otentik adanya kerajaan/lebih realnya terdpt “makam/kerajaan tnjung pura/e” di daerah tsb,,jd hemat sy kalau mau dgnti jangan ad nyenggol2 atau sangkut paut nama daerah Ketapang lagi,,fokus ke “kabupaten Sukadana” krna jelas ad “nilai jati diri” the core of valu nya dpt dsitu????