Terkait Kasus Kematian Yesa, FPRK Minta Polres Ketapang Usut Tuntas

Ketapang694 Dilihat

Ketapang, Kalbar – Beritainvestigasi.com. Kasus Kematian Yesa Gadis cilik berusia 7 tahun yang meninggal tidak wajar di Kecamatan Sandai pada Kamis (23/11/2023) lalu menjadi perhatian Publik dan duka mendalam bagi keluarga.

Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK) menyatakan turut berduka mendalam dan meminta pihak Kepolisian Polres Ketapang agar mengusut tuntas rangkaian kejadian yang memilukan tersebut, kematian Yesa yang diduga telah mendapatkan kekerasan fisik oleh orang tua angkat dengan perlakuan kejam.

Ketua FPRK Ketapang, Isa Anshari mengatakan kalau pihaknya akan terus melakukan pengawalan perkembangan terhadap kasus Yesa ini. Setelah sembelumnya, FPRK juga sempat melakukan aksi solidaritas di Kecamatan Sandai.

” Tadi kami sudah menyerahkan surat pernyataan dan tuntutan kami agar kasus Yesa diusut hingga tuntas agar para pelakunya diseret ke pengadilan dan mendapat hukuman yang setimpal,” ujar Isa Anshari, Senin (4/12/2023).

Pakwe Isa sapaan akrabnya, menyebut kalau setelah pihaknya mengikuti jalanya press release yang dilakukan oleh Polres Ketapang pihaknya menduga kalau kematian Yesa merupakan peristiwa pembunuhan berencana.

” kami melihat tadi konferensi pers berjalan, kami menduga dan patut diduga bahwa ini sebuah pembunuhan berencana karena kami melihat pelakunya lebih dari 5 orang tadi bahkan 7 orang,” katanya.

Selain itu, Isa juga meminta agar polisi mendalami informasi di media sosial mengenai peristiwa satu tahun lalu. Dimana pada postingan di media sosial itu, Yesa diceritakan pernah ditelantarkan di Pontianak hingga dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso Pontianak.

” Kami minta polisi untuk datang ke Soedarso berkoordinasi mengkonfirmasi apakah data – data Yesa sesuai dengan apa yang diposting satu tahun yang lalu,” pintanya.

Isa berharap agar pihak kepolisan terus menyampaikan perkembangan kasus Yesa ini untuk menjelaskan ke publik. Ia menilai, penuntasan kasus ini juga penting untuk penegakan hukum sekaligus menunjukkan bahwa masih ada perlindungan bagi anak.

“Penegakan hukum harus terus diwujudkan, supaya kejadian seperti ini tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” ucapnya.

Isap menambahkan kalau FPRK juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak Polres Ketapang yang suda bekerja keras dalam mengungkap kasus kematian Yesa hingga berhasil menyeret 7 orang pelaku menjadi tersangka.

“Namun kami melihat ini, ada dugaan pembunuhan berencana. Agar bisa dikenakan pasal pembunuhan berencana dan Undang- undang perlindungan anak,” tutupnya.

Sementara itu, Pihak Polres Ketapang melalui Press release membeberkan hasil dari serangkaian penyelidikan berupa olah TKP, pemeriksaan terhadap saksi-saksi, temuan barang bukti serta dilanjutkan dengan gelar perkara oleh penyidik, maka diduga kuat telah terjadi tindak pidana perbuatan kekerasan yang menyebabkan meninggalnya korban berinisial YE, dan dari itu penyidik telah menetapkan 7 orang sebagai tersangka dalam perkara tersebut.

Ketujuh orang yang ditetapkan diantaranya SST alias AK(Ibu angkat korban), YLT alias ANDI(Ayah angkat korban), MLS, VDS, SMP, DS dan AA.

Tujuh tersangka tersebut kini telah ditahan di Mapolres Ketapang sejak 03 Desember 2023.

Adapun pasal yang disangkakan ialah ” Setiap orng dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak, Junto Dalam hal anak sebagaimana sebagaimana yang dimaksud pada ayat(2)mati, maka pelaku di pidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun, dan/atau denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00(tiga miliar rupiah). Sebagaimana dimaksud pada pasal 76C, junto pasal 80 ayat 3 UU RI no 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak atau pasal 44 ayat (3) UU no 23 tahun 2004 penghapusan kekerasan dalam rumah tangga atau Pasal 170 ayat 3e KUHP”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *