Tingkat pengabdian Yang Kurang.

Bintan, Kepri, Nasional556 Dilihat

Bintan, binfo February 2018.

Di zaman era presiden Soeharto memang orang mau jdi Pns banyak yang tidak mau, di karenakan upah murah dan pasti di tugaskan ke daerah pelosok Indonesia.
Dan ada tekanan perjanjian bahwa kalua sudah jadi Pns akan ada perjanjian “ siap di tempatkan diseluruh wilayah Indonesia “
Apa lagi Guru, yang mana pekerjaan ini wajib penuh pengabdian kepada bangsa dan negara terutama pada anak anak bangsa guna mencerdaskan untuk regenerasi penerus bangsa.
Apa lagi upah seorang guru di era tahun 70 an dan 80 an berkisar 60 ribu perbulannya, sudah itu jarak mengajar dari rumah pribadi ke sekolah sangat jauh sekali.
Sehingga perlu perjuangan dan pengorbanan serta pengabdian yang tinggi sebagai guru menuju ke sekolah tersebut.
Dan di tambah pula dengan transportasi yang tidak mendukung, sehingga ketika mau ke sekolah harus menumpang kenderaan bermuatan barang milik orang.
Kondisi seperti itulah kadangkala orang ketika itu tidak mau menjadi Pns atau Guru, namun ketika itu tingkat pengambdian seorang guru sangat tinggi terhadap bangsa dan negara ini terutama pada anak bangsa penerus.
Hal inilah sekelumit kisah suka duka menjadi seorang guru, sebut saja namanya Siti Rohani kepala sekolah SMPN 1 Kijang Bintan timur yang pernah sekolah di PGA 6 tahun.
Namun itu kisah saya ketika dahulu yang penuh dengan kenangan sedih pedih namun sekarang saya baru merasakan agak senang yang sekejab lagi akan memasuki masa pension di tahun hadapan tutur Siti Rohani lagi.
Di era sekarang tingkat pengabdian seorang guru agak kurang tapi tidak semuanya seperti itulah tegasnya lagi, namun bercerita guru itu sangat kurang ya di mana mana pasti guru kurang karena saban tahunnya banyak yang pension.
Ketika di tanya soal kenakalan siswa dan siswi SMPN 1 Kijang, dengan santai Siti Rohani menjelaskan bahwa soal kedegilan anak anak sekolah tetap adalah namun dapat di atasi karena adanya kerja sama yang erat antara guru kelas dan guru BK tuturnya.
Yang agak menurun pada anak anak adalah sopan santun, budi pekerti yang paling dominan sekali tapi tidak semua yang di sekolah ini lo sambel berkelakar dengan media ini 15/2.
Untuk jumlah siswa dan siswi di SMPN 1 Kijang ini sebanyak 769 orang dengan jumlah guru pengajar dan pendidik 49 orang sudah mencukupilah sesuai sertifikaasi dan standarisasi nasional.
Sedangkan untuk kelas 3 tahun 2018 ini berjumlah 239 anak, harapan agar semuanya harus lulus lah namun sesuai dengan standart nasional urai Siti Rohani menutupi perbualan dengan media ini diruang kepala sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *