oleh

Kepala Adat Kutai Indu Andzat Perian, Angkat Bicara Terkait Dugaan Karyawan Terpapar Covid-19 Dipaksa Masuk Kerja

Ket. Foto : Nasrum, Kepala Adat Kutai Indu Andzat Perian

Kutai Kartanegara, Kaltim – Beritainvestigasi.com. HRD PT. Jaya Mandiri Sukses, Otto Budiaman Tampubolon, belakangan ini namanya sangat hangat diperbincangkan di tengah-tengah publik, khususnya di Desa Perian, Kec. Muara Muntai, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pasalnya, Oknum HRD tersebut diduga telah mengeluarkan surat panggilan kedua kepada karyawannya yang sedang terpapar covid-19.

Atas kebijakannya yang dipandang tidak mengindahkan aturan regulasi Pemerintah terkait penanganan Covid-19 tersebut, dipandang sebagai sikap arogansi terhadap bawahannya tanpa mempertimbangkan bukti medis yang telah disampaikan. Oto juga dianggap tidak perduli terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) karyawannya, terlebih lagi penyakit yang diderita adalah virus Covid -19 yang dapat menularkan.

Akibat dari surat panggilannya tersebut, akhirnya menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, diantaranya, Camat Muara Muntai, Muhammad Dahlan, S.H, selaku Ketua Gugus Tugas Kecamatan, langsung mengeluarkan surat teguran kepada PT Jaya Mandiri Sukses (JMS) agar tidak mempekerjakan karyawan yang terpapar Covid-19.

Tidak hanya itu, kini reaksi lain juga datang. Kali ini dari Kepala Adat Kutai Indu Anjat Desa Perian, Kec. Muara Muntai, Nasrum.

” Sok Jagoan HRD itu. Kan sudah ada hasil medisnya. Manusia nade be akal,” ucapnya menggunakan bahasa Kutai dengan nada marah, saat diminta tanggapannya sebagai Tokoh Adat/Tokoh Masyarakat melalui sambungan telepon, Rabu malam (11/08/2021).

” Saya bersama Dewan Adat dalam waktu dekat akan menyurati pihak management PT JMS, HRD, karyawan tersebut, Kepala Desa dan Camat selaku Gugus. Disitu nanti siapa yang terbukti bersalah maka akan kita berikan sanksi adat,” ungkap Nasrum.

” Ini perlu saya lakukan karena ini wilayah ke adatan saya, dan semua yang ada di wilayah adat Desa Indu Andzat Perian, harus mematuhi nilai nilai adat yang kami junjung,” tutupnya

Ket. Foto : Otto Tampubolon, HRD PT. JMS

Sementara itu, HRD PT. Jaya Mandiri Sukses (JMS), Otto Tampubolon, membantah bahwa Perusahaan tidak perduli atas K3 dan memaksa karyawan yang terpapar Covid-19 untuk masuk kerja.

Kepada Media ini, Otto menjelaskan perihal pemanggilan karyawan atas nama Budi Gunawan Situmorang.

Budi Gunawan Situmorang berangkat ke kampung halamannya di Sumut pada tanggal 19 Juli 2021, tanpa ada pemberitahuan maupun persetujuan dari Perusahan. Lalu kita memanggil yang bersangkutan untuk kembali bekerja.

” Budi Gunawan sering mangkir kerja. Pada bulan April juga melakukan hal yang sama, tidak bekerja tanpa pemberitahuan,” jelas Oto.

Tanggal 26 Juli 2021, sekira Pkl. 05.00 WIB, Budi Gunawan akan berangkat dari Bandara Kualanamu. Itu kita ketahui karena Budi Gunawan mengirimkan bukti tiket keberangkatannya.

Lalu, perusahaan mendapat informasi bahwa siang harinya Ia melakukan test PCR dan hasilnya positif terpapar covid-19.

” Harusnya sebelum jadwal keberangkatan di test PCR dulu. Bukan sebaliknya. Ini kan ada kejanggalan,” ucap Otto melalui sambungan seluler, Kamis (12/08/2021).

Lanjutnya, pihak Perusahaan juga sudah menyakan kebenaran hasil test PCR tersebut, dan pihak RS Sembiring, Lubuk Pakam membantah bahwa ada pasien atas nama Budi Gunawan Situmorang melakukan test PCR.

” 4-5 kali kita menelpon Rumah Sakit yang mengeluarkan hasil test PCR tersebut. Dan mereka mengatakan tidak ada pasien atas nama Budi Gunawan Situmorang melakukan test PCR,” kata Otto.

” Surat Panggilan berikutnya kita layangkan karena kita menilai bahwa ada kejanggalan dari apa yang disampaikan Budi Gunawan dengan apa yang disampaikan Pihak RS Sembiring,” katanya.

Terkait adanya surat pemanggilan dari Kecamatan ke PT JMS, Oto mengatakan belum mengetahui dan menerima suratnya.

Sementara itu, Budi Gunawan Situmorang yang diminta tanggapannya, Kamis (12/08/2021), mengatakan, apa yang disampaikan oleh HRD PT. JMS, Otto Tampubolon, hanya sebagai pembelaan diri belaka.

Pertama, menurut Budi Gunawan Otto mengatakan dirinya sering mangkir sebagai bentuk pembelaan diri Otto. ” kalau dia (Otto-red) berani, dicek di daftar absensi karyawan dalam sistem Finger Print. Dari situ kita bisa melihat daftar hadir saya dan seluruh karyawan lain,” ucap Budi Gunawan melalui sambungan seluler.

Kedua, kepulangannya tersebut dikatakan tidak mendapatkan ijin dari HRD atau atasan, Budi Gunawan mengingatkan HRD tersebut bahwa berpedoman pada Surat Perjanjian Kerja (SPK) antara dirinya dengan Perusahaan tidak ada sama sekali ada poin yang berisi mengharuskan dirinya harus mendapatkan ijin atasan jika akan pulang kampung. ” Jelas dalam hal ini saya sama sekali tidak melanggar aturan atau perjanjian kerja (SPK) tersebut,” ucapnya

Lanjutnya, bahkan sampai terkahir Ia mau pulangpun tidak pernah ada aturan atau himbauan tertulis dari pihak management untuk mengharuskan karyawan agar mendapat ijin atasan jika ingin pulang kampung.

” Justru bila berpedoman pada SPK tersebut, HRD itulah yang telah melakukan pelanggaran.
Diantaranya, saya selaku karyawan mendapatkan hak cuti tahunan, dan itu jelas tertuang dalam isi surat perjanjian kerja (SPK), tapi faktanya tidak diberikan, dan diabaikan, padahal sudah berulang kali saya menanyakan kepada pihak Management PT, baik kepada Menager yang saat ini masih aktif, maupun kepada Manager sebelumnya bahkan yang bolak balik ganti menjabat,” ungkapnya

Ke tiga, terkait jadwal keberangkatan (tiket-red) yang bertepatan dengan tanggal dirinya melakukan test Swab PCR, Budi Gunawan menjelaskan, bahwa pada hari Sabtu (24/07/2021) dirinya mengkonfirmasi melalui telepon ke Rumah Sakit (RS) Grand Medistra cabang Rumah sakit Umum Delitua dengan tujuan ingin melakukan swab PCR. Pihak rumah sakit mengatakan, kalau hanya sekedar pengambilan sampel saja bisa diambil, tetapi hasil dalam bentuk Hard Copy-nya bisa diberikan hari Senin (26/07/2021) karena di hari Minggu tidak ada pelayanan terkait Swab PCR.

Atas dasar pertimbangan itulah maka Budi Gunawan memutuskan Swab PCR di hari Senin, dengan konsekwensi kehilangan tiket pesawat (batal berangkat). Kemudian, Senin, Budi Gunawan melakukan Test Swab PCR di Rumah Sakit tersebut.

Malam harinya pihak rumah sakit mengirimkan Sofh Copy hasil Swab PCR kepada Budi Gunawan, dan ternyata hasilnya positif covid-19. ” Dan di malam itu juga saya langsung mengirimkan hasil test Swab PCR tersebut kepada Management PT JMS, yaitu, Oto Budiaman Tampubolon (HRD), Leonardo Nadeak (Asst.Hccs), Bahar Abu(GM), Salmon Sinaga (PJS Manager BKRE). Hal saya lakukan agar tidak timbul permaslahan dan menjadi dasar pertimbangan kenapa saya tidak jadi berangkat,” ungkap Budi Gunawan.

” Sebenarnya point penting dalam hal ini adalah, saya mematuhi Prokes dan aturan regulasi penanganan Vovid-19 ,khususnya di bidang penerbangan dan jelas tahapan demi tahapan yang menjadi syarat penerbangan sudah saya ikuti sesuai prosedur,” tuturnya

Menurut Budi Gunawan, setelah masalah ini dimuat dibeberapa media, ada sedikit respon dari Leonardo Asst.Hccs yang menyampaikan bahwa Pak Otto (HRD) telah menelpon Rumah Sakit, dan pihak Rumah Sakit mengatakan, bahwa pasien an.Budi Gunawan tidak ada Swab PCR di RS tersebut.

” Saya sempat menegaskan kepada dia (Leonardo), apakah bisa dibuktikan omongannya tersebut? Tetapi, Leonardo terdiam,” kata Budi.

Ket. Foto : Budi Gunawan Situmorang, Saat Meminta Konfirmasi ke RS

Tak sampai di situ, ,untuk menguatkan bukti maka Budi Gunawan mendatangi kembali Rumah Sakit dan mempertayakan perihal konfirmasi PT. JMS seperti apa yang disampaikan Leonardo.

” Tidak ada pak dari PT. JMS mengkonfirmasi,” kata Budi menirukan ucapan Staf RS.

Ket. Foto : Surat Pernyataan dari RS yang ditujukan ke PT. JMS

Bahkan, untuk menghindari permasalahan ini lebih jauh, pihak RS pun membuat surat ke PT. JMS yang menyatakan bahwa benar, Budi Gunawan Situmorang melakukan test Swab PCR dengan hasi terpapar virus Covid-19.  (Wes/Red)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed