
Masjid Usman Al-Khair dan Tugu Durian dua icon di Kayong Utara
Kayong Utara, Kalbar – Beritainvestigasi.com Wacana penggantian nama Kabupaten Kayong Utara terdapat pro kontra dari berbagai kalangan, baik dari tokoh maupun masyarakat awam.
Berbagai komentar dari warga di WhatsApp Group (WAG) ada yang berpendapat bahwa untuk saat ini yang lebih penting adalah pembangunan jalan seperti jalan di Desa Kamboja penghubung Kecamatan Pulau Maya dan Kecamatan Teluk Batang. Ada juga yang memberikan apresiasi karena penamaan yang melalui kajian dan sejarah.
“Ngabiskan duit yak nak ngubah name ape ni, isue yang paling sentral hari ni bagaimane jalan kemboje baru tanjung satai tu nyaman masyarakat lalu nye, ” Komentar anggota Grup.
“Kayong Utara ini udah 17 tahun. 17 tahun juga banyak kepentingan yang melanglang buana masuk menyeruduk dengan iming iming kesejahteraan. Tapi pertanyaan nye udah 17 th hari ini kepentingan seperti ape yang di mau masyarakat dan Pemerintah.? Masing masing membawa kepentingan. Kenyang dh makan kepentingan yang terucap di baliho, di pamflet, di media sosial.. Tapi ape gak daye hanye kepentingan. Yang seharusnye prioritas menjadi minoritas demi kepentingan, ” komentar Kang Pepen menimpali dengan membubuhkan stiker tersenyum.
“Bagus ni, kajiannye berdasarkan sejarah. Sebelum komen saran saye baca dulu artikelnya. Mau itu jadi dirubah atau nda nama Kayong Utara, minimal sudah menambah wawasan kita tentang sejarah Tanah Kayong. Kadang kite sering melupakan sejarah juga sehingga Daerah kite nda maju-maju. Mudah2an kite dapat sosok pemimpin yang benar2 paham untuk membangun Daerah kite, dan berimbas ke Kecamatan2 seperti Pulau Maya dan yang lainnya, ” tulis Eko Adinata.
Informasi berhasil dihimpun media ini bahwa ada juga sejumlah Anggota DPRD yang tidak sependapat terhadap perubahan nama Kabupaten Kayong Utara, karena dinilai banyak retorika dan tidak terlalu urgen, dan lebih baik fokus kepada pembangunan.
H. Alias Anggota DPRD dari Fraksi PKB yang juga Ketua Tim Pemekaran wilayah Kecamatan Teluk Batang berbeda pendapat adanya wacana penggantian nama tersebut.
Menurut Alias perubahan nama itu sangat prinsip, dan berdampak luas, sementara PR masih banyak yang harus diselesaikan, seperti jalan yang masih banyak rusak, perekonomian yang ambruk.
” Lebih baik kita memikirkan bagaimana membaguskan struktur jalan, bukan penggantian nama itu dulu, karena itu tidak terlalu urgen. Apakah dengan mengganti nama rakyat bisa makmur,,,? Apakah dengan ganti nama jalan bisa bagus,,,?” kata Alias Saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp Sabtu(29/06/2024).
Lanjut Alias mengatakan, kalau berubah nama, maka akan berubah juga semua kelembagaan, terutama secara administrasi, dan itu akan berakibat fatal.
“Yang kita butuhkan hari ini adalah apa yang akan kita perbuat untuk Kayong,,,! Dengan kondisi saat ini, coba lihat keadaan jalan seperti Teluk Batang ke Seponti, dan Teluk Batang ke Sudana, lihat sendirilah, ada ga yang memikir,,,? Lihat hari ini rakyat nya makan kuli di lahan nya sendiri, adakah yang berpikir, “lanjut Alias.
Menurutnya, banyak retorika yang berkembang. Karena itu Alias mengatakan belum sependapat, karena belum saat nya, mengingat KKU baru berusia 17 tahun, banyak yang harus dibenahi.
” Pada intinya saya bukan tidak setuju, namun belum saat nya, masih banyak yang harus kita pikirkan, saya atas nama Ketua divisi Kecamatan Teluk Batang belum sependapat, karena hal itu tidak terlalu prinsip. Hari ini kita minta semua elemen ambil bagian, bagaimana agar Kayong lebih maju, bukan yang beretorika dan seremonial seperti itu, kita harus carikan solusi, rakyat tidak boleh disuguhi hal-hal seperti ini, rakyat mestinya disuguhi fasilitas agar beraktifitas hari-harinya nyaman, perekonomian nya naik ini yang harus kita pikirkan, “terangnya.
Bung Tomo Anggota DPRD perwakilan Dapil 2 Pulau Maya dari fraksi Golkar di hubungi melalui pesan WA dan ditelepon tidak ada respon.
Demikian pula Anggota DPRD dari Fraksi PAN Dapil 2 Pulau Maya, Alias Syahroni, saat dihubungi nomornya tidak aktif.
Isue Awal Penggantian Nama dari Oso
Swbelumnya, Isue wacana akan digantinya nama Kayong Utara menjadi Kabupaten Tanjung Pura awalnya muncul ide dari Tokoh Nasional Oeman Sapta Odang(Oso) asal Kalbar yang juga lahir di Sukadana Kabupaten Kayong Utara.
Berkembangnya isue tersebut sebelum menjadi inisiatif resmi dari DPRD Kayong Utara, agar ada masukan dan komentar dari tim pemekaran, hal itu diungkapkan Abdul Rahman Ketua 3 Tim Pemekaran perwakilan Kecamatan Pulau Maya saat acara Tahlilan di kediaman Ketua Umum Tim Pemekaran, Adul Zamad pada Selasa(25/06/2024).
Inisiasi dari DPRD dan tim pemekaran itu pun disambut baik oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Kayong Utara. Dimana Tim TACB melalui Miftahul Huda menyampaikan beberapa alasan dan dasar serta alternatif nama sesuai dengan data melalui kajian dan nilai sejarah yang dapat dibuktikan hingga saat ini.

TACB KKU Dukung DPRD Mewacanakan Ganti Nama Untuk Kabupaten Kayong Utara
Dimana sebelumnya sekitar dua minggu lalu Tim Ahli Cagar Budaya bertemu dengan Ketua DPRD Kayong Utara membahas mengenai wacana perubahan nama Kabupaten Kayong Utara.
“Menurut Sarnawi selaku ketua DPRD mengaku bahwa awalnya ia bersama beberapa anggota DPRD saat bertemu tokoh nasional Oso (Usman Sapta Odang), sempat membahas wacana perubahan nama Kabupaten Kayong Utara, ” kata Miftahul Huda dari Tim TACB kepada tim Beritainvestigasi.com Kamis(27/06) malam.
Huda menambahkan, dalam pembicaraan tersebut intinya pak Oso menyarankan kepada DPRD agar meninjau ulang penamaan Kabupaten Kayong Utara, kajiaanya seperti apa dan maknanya apa ?
“Kalau nama Tanjungpura jadi Kabupaten bagaimana,,,? Coba dikaji benar ndak Tanjungpura pernah ada di Sukadana kata pak oso, ” ujar Huda menirukan ucapan Sarnawi.
“Dan tentunya harapan kami nama yang akan diajukan tentu harus memiliki kajian yang matang terutama dari sisi kesejarahan. Sebuah nama sangat berpengaruh pada sebuah daerah, terutama dalam pembentukan citra dan jati diri. Hari ini kita banyak tidak memahami nama “Kayong”, yang dijadikan sebuah nama Kabupaten yang baru 17 tahun berdiri ini, ” lanjut Huda yang juga Ketua Lembaga Simpang Mandiri.
Nama Tanjungpura sebagai alternatif pilihan pengganti Kayong Utara bukan asal, namun melalui riset dan kajian yang diambil dari nilai Historis serta dampak manfaat ke depan bagi perkembangan dan kemajuan pembangunan di segala bidang di tanah betuah yang sarat dengan sejarah dan budaya.
Menurut Huda berdasarkan kajian dan sejarah Nama Kayong tidak ada masuk dalam wilayah Kabupaten Kayong Utara saat ini. Maka jika wacana perubahan ini bergulir ada beberapa opsi nama yang bisa menjadi landasan kuat untuk mengganti Nama Kabupaten Kayong Utara yakni nama nama kerajaan yang pernah wujud di wilayah administratif Kabupaten Kayong Utara.
Fakta Sejarah
1. Kerajaan Tanjungpura
Kerajaan Tanjungpura pernah beribukota di Sukadana sejak rajanya Prabujaya yang bertahta pada tahun 1464 – 1472. Prabujaya sebelumnya memindahkan ibu kota dari benua lama (negeri baru/ ketapang) ke Sukadana. Kerajaan Tanjungpura era sukadana maju pesat hingga menurunkan 11 generasi raja, dari mulai Prabu Jaya, Baparung, Karang Tanjung Sang Ratu agung, Panembahan Bandala, Pangeran anom, Paenembahan Air Mala,Panembahan Baroh, Panembahan Sorgi, Ratu Mas Jaintan dan Penembahan Giri Mustika di tahun 1677 M.
Bukti Arkeologi dimasa Kerajaan Tanjungpura Era Sukadana adalah: Komplek Makam Tok Mangku, Makam Panembahan Ayer Mala, Komplek Makam Kermata Gunung Lalang, Makam Pulau Datok dan lain lain. Dimana pada makam makam tersebut mencirikan ketuaan dan kekhasan yang mewakili masa dan gaya di abad ke 15 – 16.
Catatan/Manuskrip tentang Sukadana dimasa Tanjungpura yang Masyhur diantaranya adalah: Negara Kertagama Kitab Raja Raja Melayu Dan Bugis, serta Catatan Eropa dan peta sezaman.
2. Kesultanan Matan Tua
Selanjutnya setelah Panembahan Giri Mustika yang mangkat pada tahun 1677 pusat ibu kota berpindah dari Sukadana ke Matan, (saat ini bernama Desa Matan jaya Kecamatan Simpang Hilir) yang kemudian disebut sebagai Kesultanan Matan. Raja yang memerintah di Kesultanan Matan hingga 4 generasi yaitu : Pangeran Jaga Dilaga, Sultan Zainuddin, Pangeran Ratu Dan Pangeran Mangkurat.
Bukti Arkeologi dimasa Kesultanan Matan adalah : Situs kolam laut ketinggalan, Makam Sultan Matan dan Sayyid Kubra, Makam Keramat Sekusor, Umpak bekas tiang seri Keraton, Makam Type Aceh Abad 17, Makam Berbahan Batu Karang di Matan, Makam Type Melayu (Singapura/tumasik) abad 17 dan lain lain.
3. Kerajaan Simpang Matan
Pada tahun 1744 Pangeran Ratu Agung yang merupakan cucu dari Sultan Muhammad Zainuddin (Matan) lahir. Kelak ia mendirikan Kerajaan Simpang Matan yang pusat kekuasaanya berada di percabangan Sungai Matan dan Lubuk Batu. Hari ini lazim disebut Simpang Keramat. Pada tahun 1912 Pusat Ibu Kota Kerajaan Simpang Matan berpindah Ke teluk Melano yang dipimpin Panembahan Gusti Roem.
Bukti Arkeologi dan peninggalan dimasa Kerajaan Simpang Matan adalah : Situs Simpang Keramat, bekas masjid, bekas tiang keraton, meriam Bujang Koreng, Makam Bunga di sepuncak, Makam Swapra Simpang, cap kerajaan, payung, keris, catatan/manuskrip, dan lain lain.
4. Kerajaan Sukadana Baru Nieuw Brussel
Pada Tahun 1827, Tengku Akil dari Kerajaan Siak menjadi raja Sukadana dengan Gelar Sultan Abdul Jalil Syah. Sukadana Baru atau Nieuw Brussel adalah nama yang dipakai pada masa Pemerintahannya. Adiknya bernama Tengku Djakfar juga mendirikan Kerajaan di Karimata pada Tahun 1833.
Bukti Arkeologi dan peninggalan dimasa Kerajaan Nieuw Brussel atau Sukadana Baru adalah: Komplek Makam Tengku akil, Komplek Makam Tengku Abdul Hamid, bekas rumah wakil penambahan, Eks Tangsi Militer Belanda, bekas gudang garam, bekas benteng di pulau datok, SDN 01 Sukadana, dan lain lain.
“Beradsarkan linimasa perjalan sejarah diatas, nama Tanjungpura bisa dipakai sebagai salah satu opsi kuat untuk nama pengganti dari Kabupaten Kayong Utara menjadi nama Kabupaten Tanjungpura. Sebab dari sisi sejarah dan bukti arkeologi di lapangan cukup kuat sehingga dapat dipertanggung jawabkan, “terang Huda.
“Selain itu di banyak Kabupaten nama mereka diambil dari nama kerajaan, seperti Sintang, Mempawah, Sambas, Pontianak, Landak, Sanggau, dan lain lain itu diambil dari nama kerajaan yang pernah berdiri disana, ” tutup Huda.
Verry/Red





















