Presiden Jokowi Ingin “Vlog” Jadi Mata Pelajaran Di Sekolah

Teknologi784 Dilihat

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden RI, Joko Widodo, mengimbau agar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak mengurangi jurusan-jurusan baru yg mengasah skill di sektor teknologi dan digital. Jika tidak, sumber daya manusia lokal mulai terus-menerus tertinggal dan tidak dapat berkompetisi di ranah global.

Salah sesuatu jurusan yg dianjurkan Jokowi adalah pengembangan skill membuat video blog atau kerap disebut vlog. Menurut dia, SMK jangan melulu terpaku pada jurusan mesin, bangunan, listrik, dan jurusan yang lain yg telah eksis sejak dulu.

“Dunia berubah cepat sekali. Mestinya ada jurusan mengenai jaringan IT, membuat video blog, aplikasi, animasi, yg sedang in,” kata Jokowi dalam pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia, Kamis (2/2/2017), di JCC, Senayan.

Dengan penambahan jurusan-jurusan baru yg relevan dengan tren ketika ini, lulusan SMK diharapkan tidak lagi hanya jadi buruh di negeri orang. Saat ini, menurut data yg diumbar Jokowi, sebanyak 82 persen TKI yg bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di luar negeri yaitu lulusan SMK.

Bikin vlog makin mudah

Kemunculan vlog di internet sebenarnya telah dimulai sejak lima hingga enam tahun lalu. Namun tren vlog sendiri menjadi masif pada akhir 2015 dan selalu berlanjut sepanjang 2016 hingga kini.

Hal ini tidak lepas dari berbagai faktor yg mendukung terciptanya ekosistem video mobile. Pertama, infrastruktur jaringan internet semakin baik sehingga netizen lebih gampang mengeksplor tayangan video via smartphone di mana pun dan kapan pun.

Kedua, para vendor smartphone berbondong-bondong melahirkan perangkat yg sesuai dengan kebutuhan buat membuat vlog. Mereka menawarkan kamera depan dengan sensor bermegapiksel besar dan teknologi stabilizer bagi mencegah guncangan saat merekam video.

Sebut saja dua perangkat yg mampu dibilang “vlog ready” seperti Oppo F1s, Vivo V5, LG G5, Samsung Galaxy S7, iPhone 6 ke atas, dan flagship lainnya yg berseliweran di pasaran.

Netizen tidak perlu mengeluarkan modal mahal bagi membeli kamera demi menjadi vlogger. Cukup memakai smartphone, netizen mampu mengabadikan momen apa saja bagi dikaryakan dan dimonetisasi lewat platform berbagi video YouTube.

Vlogger kini tidak ubahnya pekerjaan profesional dengan pendapatan relatif tinggi, sesuai dengan banyaknya subscribers dan views. Para pengiklan kerap mengajak vlogger tenar buat bekerja sama melakukan kampanye pemasaran produk.

Lama-kelamaan, peran vlogger dapat dibilang serupa dengan artis di layar kaca. Bedanya, vlogger tidak perlu didistribusikan lewat manajemen artis karena mekanisme kerjanya individualis dan mandiri.

Selain jurusan vlog, aplikasi, dan animasi, Jokowi juga berharap SMK mampu menyediakan jurusan retail bagi toko online (e-commerce). Lagi-lagi, hal ini merujuk pada tren global.

“Kalau ada jurusan online store kalian mampu mendidik anak-anak kami buat membangun sebuah platform. Bagaimana Alibaba dapat membangun sebuah logistic platform dan retail platform yang sangat besar sekali dengan ratusan juta pengunjung seperti itu,” ia menjelaskan.

Baca: Video Wawancara Kepala Bekraf: Sudah Bikin Apa Selama 2 Tahun?

Sumber: http://tekno.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *