Ucapan Edy Mulyadi Lecehkan Kalimantan, Begini Sikap Ketua MADN

Dr. Agustin Teras Narang, S.H,
Anggota DPD-RI/MPR-RI Dapil Kalteng dan
Ketua Majelis Pertimbangan MADN (Majelis Masyarakat Adat Dayak Nasional)

Pontianak, Kalbar – Beritainvestigasi.com. Arus Protes dan kecaman kepada Edy Mulyadi Cs yang diduga telah melecehkan dan menghina orang Kalimantan terus bermunculan khususnya Masyarakat Adat Dayak.

Perihal mencuatnya ucapan Edy Muliadi yang dianggap sebagai penghinaan bagi sebagian besar warga yang tinggal di Pulau Borneo itu menjadi viral setelah beredarnya Video melalui Chanel Youtube ” BANG EDY CAHANEL”.

Merebaknya perihal tersebut, Ketua Majelis Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN), Dr. Agustin Teras Narang, S.H, angkat bicara.

“Sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN), Saya menyampaikan harapan agar masyarakat bisa menyikapi hal ini dengan tenang dan arif,” ujar Teras Narang dalam siarannya.  Selasa (25/01/2022).

Ketua Majelis Pertimbangan MADN itu menghimbau agar masyarakat menjaga situasi yang kondusif dan menghormati prosess hukum yang berlaku.

“Sebagai warga negara Indonesia yang taat hukum, kita perlu menjaga situasi kondusif dan menghormati proses hukum yang berlaku. Begitu pun kita berharap agar penegak hukum menindaklanjuti laporan masyarakat sesuai prosedur yang berlaku, menuntaskan penyelidikan dan penyidikan, hingga proses selanjutnya menurut ketentuan hukum yang berlaku,” himbaunya.

Dia menuturkan, dalam konteks adat, proses peradilan adat akan ditentukan lebih lanjut nantinya oleh MADN. Proses ini adalah bagian dari kearifan lokal masyarakat adat dayak yang terpisah dari proses hukum positif.

“Saya berharap, seluruh pihak bersikap arif dalam menyampaikan pernyataan sentimentil, meski memiliki perbedaan kepentingan politik. Momen ini juga mesti jadi pembelajaran bagi semua pihak, untuk tidak menganggap sepele kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Terlebih bagi masyarakat adat Dayak yang sudah dari dulu banyak tinggal, membangun peradaban, serta memelihara kehidupan harmonis dengan alam di hutan,” harapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, bahwa hutan bukan melulu tempat tinggal bagi flora dan fauna. Hutan adalah jantung kehidupan manusia sejak dari dulu, hingga detik ini. Kekayaan sumber daya alam hutan Kalimantan, tak hanya menghidupi masyarakat adat Dayak, tapi juga menggerakkan pembangunan negara ini bahkan dunia. Kekayaan alam Batubara hingga Migas dari hutan Kalimantan telah menggerakkan perekonomian, sekaligus berkontribusi pada tersedianya oksigen bagi kehidupan planet bumi. Maka tak heran Kalimantan juga disebut sebagai paru-paru dunia.

“Untuk itu, mari tidak memandang remeh hutan. Terlebih di Indonesia banyak masyarakat adat lainnya yang bergantung hidup dan kebudayaannya dari hutan,” kata tokoh yang juga Anggota DPD/MPR-RI dapil Kalteng itu.

“Semoga perdebatan terkait Ibu Kota Nusantara, tidak menghilangkan nalar serta adab dalam berdialektika. Mari rawat demokrasi tanpa memicu friksi, terlebih dalam situasi bangsa yang masih memiliki banyak tantangan karena pandemi,” pungkasnya.  (Vr).

Editor : Wesly (Asesor UKW).


Catatan : Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dengan menggunakan Hak Jawab sebagaimana diatur dalam UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *